Jul 22 2008

Class Room

Published by

Mata kuliah yng saya ampu dua tahun terakhir ini adalah Semiotika dan Kritik Arsitektur, Metode Penelitian, dan Pengantar Kajian Kota dan Permukiman. Beberapa materi kuliah lama dapat anda dapatkan di link ke wiki tersebut.

Materi Kajian Kota dan Permukiman:

Di tahun akademik 2008/2009 saya mengampu Perancangan Arsitektur 5 dan Perancangan Arsitektur 7. Perancangan Arsitektur 5 (Architectural Design 5) diarahkan untuk mempersiapkan mahasiswa mampu merancang sekelompok bangunan terdiri dari 1-4 lantai yang mewadahi aktivitas kultural dengan pola perilaku tertentu. Rancangan ini secara kreatif merupakan reinterpretasi bentuk arsitektur tradisional Indonesia dalam konteks kekinian (kontemporer). Hasil rancangan mempertimbangkan sistem struktur, tektonika, dan bahan bangunan tradisi yang sarat dengan teknik tradisional masyarakat Indonesia pada setting tapak yang memiliki nilai kultural/kesejarahan yang tinggi dengan menerapkan aspek keberlanjutan yang menggunakan sumber daya kultural secara tepat.

One response so far

One Response to “Class Room”

  1. david irianto 08512021on 22 Feb 2010 at 4:55 pm

    PERBANDINGAN DESA DAN KOTA
    1.

    Pemukiman kumuh

    Di kota-kota besar di Negara-negara Dunia biasanya ditemukan adanya daerah kumuh atau pemukiman miskin. Adanya daerah kumuh ini merupakan pertanda kuatnya gejala kemiskinan, yang antara lain disebabkan oleh adanya urbanisasi berlebih, di kota-kota tersebut.

    Daerah kumuh (slum area) diartikan sebagai suatu kawasan pemukiman atau pun bukan kawasan pemukiman yang dijadikan sebagai tempat tinggal yang bangunan-bangunannya berkondisi tidak layak di pakai yang dihuni oleh para penduduk miskin atau yang perekonomiannya sangat rendah. Kawasan yang sesungguhnya tidak diperuntukkan sebagai daerah pemukiman di banyak kota besar, oleh penduduk miskin yang berpenghasilan rendah dan tidak tetap diokupasi untuk dijadikan tempat tinggal, seperti bantaran sungai, di pinggir rel kereta api, tanah-tanah kosong di sekitar pabrik atau pusat kota, dan di bawah jembatan.

    Beberapa ciri-ciri daerah kumuh ini antara lain:

    (1) Dihuni oleh penduduk yang padat dan berjubel, baik karena pertumbuhan penduduk akibat kelahiran mapun karena adanya urbanisasi.

    (2) Dihuni oleh warga yang berpenghasilan rendah dan tidak tetap.

    (3) Rumah-rumah yang ada di daerah ini merupakan rumah yang terbuat dari bahan-bahan bekas dan tidak layak di pakai.

    (4) Kondisi kesehatan dan sanitasi yang kurang memadai, biasanya ditandai oleh lingkungan fisik yang jorok dan mudahnya tersebar penyakit menular.

    (5) Tidak adanya pelayanan kota seperti air bersih, fasilitas MCK, listrik, dsb.

    (6) Pertumbuhannya yang tidak terencana sehingga penampilan fisiknya pun tidak teratur dan tidak terurus; jalan yang sempit, halaman tidak ada, dsb.

    (7) Kuatnya gaya hidup yang masih tradisional.

    (8) Secara sosial terisolasi dari pemukiman lapisan masyarakat lainnya.

    (9) Ditempati secara illegal tidak jelas surat tanahnya.

    (10) Biasanya ditandai oleh tindak kriminal.

    Dari hasil penelitian didapatkan ada empat masalah besar yang dihadapi suatu Kota terkait dengan permukiman kumuh atau pemukiman liar yaitu masalah administrasi kependudukan, kesemrawutan tata ruang, berkembangnya faktor risiko masalah kesehatan masyarakat dan kemiskinan.

    Langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan untuk penataan suatu lingkungan permukiman kumuh adalah:

    (1) Lebih mengefektifkan penertiban administrasi kependudukan dan bekerja sama dengan perangkat desa yang mewilayahi permukiman kumuh di Kota.

    (2) Penataan kembali lingkungan dengan menyediakan kamar mandi dan jamban umum, program sanimas dan pengelolaan sampah swadaya di permukiman kumuh.

    (3) Peningkatan perilaku hidup sehat pada masyarakat pemukiman kumuh.

    (4) Sosialisasi kebijakan pemerintah kota yang terkait dengan program penataan kembali daerah permukiman kumuh perlu lebih ditingkatkan dengan melibatkan kelompok masyarakat di permukiman kumuh.

    (5) Perlu dilakukan studi lanjutan untuk menggali informasi yang lebih luas terkait dengan penataan kembali lingkungan permukiman kumuh.

    1.

    Desa kota

    Indonesia merupakan Negara yang memiliki sebutan sebagai Negara agraris yang sedang berkembang, disebut Negara agraris karena penduduknya bertempat tinggal dipedesaan dengan aktifitas sebagai petani, tanahnya yang cukup subur dan lahan pertaniaanya yang cukup luas.

    Suatu negara yang ingin maju tentunya mempunyai upaya mengelola dan memanfaaatkan semua potensi sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia. Negara Indonesia termasuk Negara yang memiliki kekayaan alam yang beraneka ragam jenisnya dan jumlahnya cukup banyak.

    Dalam pembentukan sebuah desa terdapat 3 unsur – unsure pokok:

    1.

    Daerah/wilayah yang merupakan tempat tinggal dan tempat beraktivitas masyarakat.
    2.

    Penduduk adalah terkait dengan kualitas dan kuantitas.
    3.

    Tata kehidupan atau aturan – aturan yang berhubung langsung dengan keadan masyarakat dan adat istiadat setempat.

    Dalam perkembangan suatu tempat menjadi suatu desa atau kota tidak lepas dari keinginan serta kemampuan manusia yang tinggal di tempat itu, karena desa dan kota pada dasarnya adalah sama, merupakan tempat tinggal penduduk. Yang membedakan adalah perkembangannya.

    1.

    Pengertian

    Desa adalah pemukiman penduduk yang letaknya di luar kota. Biasannya penduduk beraktivitas sebagai petani.

    Dalam pengertian luas menurut R. Bintarto. ( 1977 ) Desa adalah merupakan perwujudtan geografis 7yang ditimbulkan oleh unsur – unsur fisiografi, social, ekonomis politik, cultural setempat dalam hubungan dan pengaruh timbal balik dengan daerah lain.

    Pada definisi kota terdapat beberapa aspek yang menjadi dasarnya, adalah aspek morfologis, jumlah penduduk, social, ekonomis dan hukum.

    Kota merupakan tempat tinggal penduduk yang heterogen dengan mempunyai latar belakang budaya yang berbeda – beda ragam dan aktivitasnya. Penduduk lebih bersifat ekonomis matriallistis dan mengarah pada system industri.

    Jadi dalam perkembangan sebuah kota berdasarkan tahap:

    1.

    Eopolis yaitu tahap perkembangan daerah kota yang sudah diatur ketahap kehidupan kota ( kota kecamatan ).
    2.

    Polis yaitu tahap perkembangn kota yang masih ada pengaruh kehidupan agraris ( kota Kabupaten ).
    3.

    Metropolis yaitu tahap perkembangan kota sudah mengarah pada sector industry.
    4.

    Trianopolis adalah tahap perkembangn kota yang kehidupannya sudah sulit dikendalikan baik masalah lalu lintas, pelayanan maupun kriminalitas.
    5.

    Nekropolis yaitu Tahap perkembangan kota yang kehidupannya mulai sepi bahkan mengarah pada kota mati.

    Dalam penataan ruang desa kota diperlukan 4 komponen yaitu:

    1.

    Sumberdaya alam.
    2.

    Sumber daya manusia.
    3.

    IPTEK
    4.

    Spatial ( keruangan ).

    Bentuk dan pola tata ruang kota, dalam penataanya tidak terlepas memperhatikan corak kehidupan penduduk, karena penduduk kota sudah memiliki corak ragam kehidupannya yang heterogen, sehingga pola – pola tata guna lahan untuk ruang di kota sudah dirancang dengan baik terutama memperhatikan pengadaan sarana perkotaan dengan baik dan terpadu yang meliputi :

    1.

    Penyediaan air bersih.
    2.

    Drainase yang baik.
    3.

    Pengelolaan sampah.
    4.

    Sanitasi lingkungan.
    5.

    Perbaikan kampung.
    6.

    Pemeliharaan jalan kota.
    7.

    Perbaikan prasarana fungsi pasar.

    Intreksi desa kota adalah proses hubungan yang bersifat timbal balik antar unsur – unsur yang ada dan memmpunyai pengaruh terhadap perilaku dari pihak – pihak yang bersangkutan melalui kontak langsung.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*