Archive for the 'Reflective Discourse' Category

Dec 29 2011

"Yogyakarta Serambi Madinah" Dalam Perspektif Tata Ruang

Abstrak

Makalah ini berusaha mengidentifikasi potensi permasalahan wacana Yogyakarta Serambi Madinah dalam perspektif tata ruang. Pertama adalah melihat implikasi wacana tersebut dalam politik tata ruang yang mungkin konfliktual. Kedua, adalah implikasi dalam politik yang menjadikan ambiguitas yang mungkin pula konfliktual. Berdasarkan analisis keruangan, makalah ini menyodorkan suatu interpretasi terhadap Yogya Serambi Madinah dalam kerangka dualisme, yaitu ko-eksistensi antara tatanan berbasis kultural-teokrasi (Kraton sebagai representasinya) dan demokrasi-ekonomi (pemerintahan formal sebagai representasinya) dalam upaya menegaskan kembali adanya "ruang demokratik" yang telah menjadi ciri keistimewaan Yogyakarta dari sisi tata ruang.

Makalah ini disampaikan sebagai bagian dari misi itu dan dipresentasikan dalam Dialog Budaya & Gelar Seni "YogyaSemesta" Seri 29, 26 Januari 2010 di Bangsal Kepatihan Yogyakarta.

Continue Reading »

No responses yet

Dec 27 2011

Islam dan Barat

Published by under Reflective Discourse

Sebuah tulisan keprihatinan terjadinya pemboman Hotel Marriot di Jakarta 5 Agustus 2003 lalu, dan saya kira masih relevan untuk masa kini.

Continue Reading »

No responses yet

Nov 20 2011

Yth, Teman-teman

Dear RRs,

Posisiku pasti.

Aku saat ini tidak begitu "in"  dengan skenario yang menghadapkan dunia Islam dengan Barat. Bagiku ini sangat nggak produktif bahkan untuk Islam sendiri. Pikiranku sederhana, begitu kita menghadapkan dua dunia ini dalam konstruksi pemikiran kita, semua dadi wagu, analisinya jadi repot lantaran yang kita hadapi adalah hibridasi dari dua dunia itu sendiri (bahkan Barat sendiri adalah "anak kandung" dari tradisi keilmuan Islam kan?) Contoh paling kelihatan ya kita ini. Kita kan produk Islam+Barat. Di otak kita mengalir dua-duanya...dan nyatanya kita (di level individu) bisa "negosiasi" dengan keduanya kan (walau terengah-engah).... Paling kelihatan gampang lagi, kita juga. Kita orang Islam yang hidup di Barat..... Pikiranku simpel, pragmatis lantaran konstruksi Islam vs Barat ini bagiku hanya "angan-angan" belaka (yang secara riil memang ada di banyak pikiran baik orang Barat maupun orang Islam). Yang sekarang berusaha aku kembangkan adalah "memetakan" angan-angan itu untuk menemukan realitas baru....menemukan "way out" nya....sebuah masyarakat dengan konstruksi "baru" yang jelas bukan Islam vs Barat. Continue Reading »

One response so far

Aug 09 2008

Mailing List: Ruang Demokratis?

Saya tulis 3 Maret 2004 di Marburg, Jerman.

Bak mainan baru bagi seorang anak-anak, mailing list menjadi marak sejalan dengan perkembangan dan kemudahan akses internet di hampir seluruh penjuru dunia. Di Indonesia,dan masyarakatnya di manapun berada, pun keranjingan dengan model komunikasi baru ini. Mulai dari yang sekedar mecoba-coba dan sekedar pasif mengikuti sampai secara serius menggunakannya untuk berbagai macam konsolidasi dan koordinasi. Mailing list adalah model komunikasi yang menyandarkan pada ketidaksimultanan (asinkron) interaksi antara si penulis dengan pembaca, menjadikan pesan selalu “terpenggal” olehnya namun mampu melintasi ruang dan waktu. Berbeda secara total dengan saresehan atau tongkrongan di warung tegal dimana pesan-pesan akan disinkronisasi oleh kebersamaan ruang dan waktu, namun akan buyar ketika waktu memaksa pembicara bubar atau warung tegalnya dibongkar tramtib.

Ruang Virtual
Mailing list, konon, dianggap merupakan bagian dari ruang virtual yang dibentuk oleh jaringan komputer yang menyimpan pesan-pesan itu dalam entitas “bit” yang bukan material. Ruang virtual, konon, dikatakan sebagai “ruang” tetapi bukan ruang dalam arti fisikal atau geografis. Ia dianggap mempunyai kualitas yang dapat dianggap, dipikirkan, diimajinasikan sebagai ruang, tetapi tidak bisa dirasakan kehadirannya dalam dunia material. Oleh karenanya ia dinamakan “virtual” yang secara umum berarti “seperti,” “mendekati,” “seolah-olah” seperti ruang fisik tempat kita bersenda gurau saling tonjok.

Ruang virtual itu juga dianggap seolah-olah merupakan ruang publik yang memungkinkan kita berinteraksi dengan banyak orang (sekali lagi: asinkronis) entah dengan identitas “nama beneran” ataupun yang disembunyikan dengan nama samaran. Namun demikian, baik ruang fisik maupun bit ini adalah realitas: yang fisik telah “biasa” kita lakoni sementara yang virtual, seperti “mainan baru” yang masih butuh dipahami dan dieksplorasi. Mailing list, diidamkan oleh sebagian orang sebagai ruang publik “baru” yang memungkinkan realitas-realitas baru bermunculan. Ketika kita bertemu muka, adat, tradisi, atau hierarki memaksa kita untuk, misalnya, hormat kepada tetua. Saking hormatnya, kadang menjadikan luapan emosi atau ketidaksetujuan menjadi terpendam dalam kuluman belaka. Kadang pula, lantaran ewuh dan pakewuh, suatu perkara tidak mungkin dilontarkan secara terbuka melalui komunikasi simultan ala jagongan di gardu ronda. Mailing list menjadi alternatif munculnya “alam bawah sadar,” “realitas terpendam”, dan, sedikit atau banyak, membongkar jeratan tradisi, hierarki atau ewuh pakewuh. Ia menjadi ruang publik baru yang memungkinkan kaum yang “tak terwakili,“ atau “minoritas,” atau “individu terjajah,” bersuara nyaring tanpa
harus secara frontal berhadapan muka yang kadang-kadang membuat gamang itu. Entah itu berupa suara minoritas, suara “sengak,” kritikan pedas, luapan emosional, semua adalah pesan yang pasti, sedikit atau banyak, mempunyai pijakan yang mempunyai korelasi dengan realitas “fisikal.” Adalah tugas kita semua untuk menampung kata-kata itu dan mencari ikatan kebenarannya di ruang fisik sekeliling kita.

Duplikasi Relasi Sosial?
Mailing list, adalah ruang fenomenologis yang sedikit atau banyak mampu memberi gambaran pada hal-hal yang tidak semuanya bisa dilihat dengan mata dan indera. Namun demikian, idaman ini pun kadang bisa sirna. Ketika mailing list telah “dikelola“ dengan penciptaan kriteria-kriteria. Ada pesan yang boleh dan tidak boleh di luncurkan. Ada warga yang boleh masuk dan harus dikeluarkan. Ada yang berhak menilai mana yang layak tayang mana yang bukan. Dan seterusnya. Ruang virtual ini, dengan berbagai kriteria dan peraturan, diidamkan menjadi ruang yang “mulus” tanpa hentakan, gesekan, saling senggol dan saling tubruk. Seakan-akan sebuah mailing list akan menjadi ideal ketika hal-hal itu mampu diredam dan dihilangkan. Peraturan, “moderator,“ atau siapapun yang menjadi “pengelola“ mailing list telah menjadi otoritas baru yang merenda adat dan tradisi baru bagi ruang publik virtual ini. Dan ketika otoritas baru ini demikian canggihnya tersusun, secara tidak sadar telah menciptakan
duplikasi hirarki, tradisi, adat yang menjadikan, sekali lagi, kaum tertindas, kaum minoritas, kaum pemberontak, tak lagi punya tempat berpijak. Sunyi, tak bersuara. Telah hilang satu realitas, tertindas oleh jeratan otoritas.

Mailing list, seperti mainan baru bagi anak-anak, yang masih harus dipelajari dan dieksplorasi. Saya kemudian melihat ke anak-anak. Mereka mendapat kepuasan dan pelajaran ketika si orang tua memberi “kebebasan” untuk berkreasi dengan mainan itu. Saya lantas bertanya-tanya berkaitan dengan mailing list yang seakan-akan mainan orang dewasa itu, bisakah kita mendapatkan “kepuasan” dengan mengekang-kekang kendali tidak karuan? Ataukah kita bisa dengan sendirinya menciptakan adat baru tanpa harus merasa terbelenggu? Atau memang kita suka membelenggu diri sendiri?

No responses yet

Jul 18 2008

TTM (Tulisan Tengah Malam)

Published by under Reflective Discourse

Saya tulis suatu malam ketika masih di Jerman, entah kapan. 

Tengah malam, mataku masih melek memelototi layar komputer setelah seharian berkubang dalam seminar bersama kawan-wakanku dari China dan Jerman. Kafein di secangkir cappucino yang kuteguk siang tadi agaknya masih berpengaruh di otak ini yang menggiringku untuk meluangkan waktu menyisiri tulisan-tulisan yang bertebaran dalam mailing list-mailing list. Istriku sedang berkongres di Dresden sana, yang tentu saja menjadikan malam-malamku ini sepi. Apalagi anak-anak telah tidur kelelahan setelah seharian bermain di rumah “saudara” (ketemu di Jerman) yang menolongku menjemput mereka dari sekolah dan kindergarten.
Tengah malam, jam 12, mataku masih melek yang membuatku gatal untuk senam jari mengetikkan bualan dan luapan emosional yang tertekan.

Kadang, atau malah sering kali, aku tidak mudeng dengan berbagai kontradiksi yang memasungku setelah aku membaca tulisan-tulisan di milis atau berita-berita di koran-koran. Rasanya, kepingin aku, sehari saja, membuang semua tulisan dan membebaskan diri dari belenggu rangkaian makna yang sambung menyambung itu. Kepingin rasanya, seperti sebuah harddisk komputer, aku ingin memformat ulang otakku yang mungkin telah penuh berisi junkfiles, seperti komputerku yang berkali-kali harus di-boot ulang agar bisa berjalan lumayan mulus. Ingin aku, menutup semua sambungan makna-makna kata-kata itu, yang bagiku menjadi semacam narasi yang sudah ketahuan ujung pangkalnya, dan merangkai satu per satu kembali agar membuahkan makna yang sama sekali baru, atau tidak bermakna sama sekali. Ingin aku membunuh makna-makna dan mencabuti akar-akar kata-kata itu agar aku bisa menuai barang baru yang tidak bisa aku duga apa bentuk dan ujudnya. Bagiku, keterkejutan itu adalah sebuah nikmat tersendiri yang barangkali hampir setara dengan format ulang bagi sebuah komputer yang dibikin dengan system jangkrik ini. Tapi, apalah dayaku. Setiap kali aku berusaha untuk melenyapkan diri dari tulisan-tulisan itu, semakin nyaring pula gaung makna itu menggedor telingaku. Semakin aku tutup mata, semakin terbayang pula tarian kata-kata. Semakin aku menjauhi papan ketik komputerku, semakin sering detak tuts itu menghantui malam-malamku.

Tengah malam, pukul 12 lebih sedikit. Mataku masih melek, seger waras tertambat kofein Capuchino siang tadi.

Berapa kali aku sudah posting ke berbagai milis, ke rektorku, ke teman-teman, ke sanak kadang. Atau sekedar rasan-rasan, gethok tular, sambung rasa, silaturahmi, untuk mencari makna sejati kehidupan. Mencari jawab kenapa agamaku, sekarang sedang menjalani lelakon yang sayangnya bukanlah lelakon yang sedang laku. Banyak orang punya pendapat, punya analisis, itu semua gara-gara si Bush babahnya Amerika itu. Amerika yang sok imperialis, yang suka membela Israel walaupun sesalah apapun negeri boneka itu. Amerika yang mengaku sok paling jago yang maunya menang sendiri. Irak dijajah, Iran sebentar lagi, Syiria diintimidasi, Indonesia dibumbu-bumbui supaya berkelahi sendiri-sendiri. Yah, mungkin ada betulnya tapi bagiku, analisis ini sama saja seperti mengiris roti tawar pakai pisau kethul, yang bikin ambyar tidak karuan. Semakin kita ubek-ubek semakin ambyar apa yang kita punya. Kenapa? Sederhana juga. Analisis itu sama dengan kalau kita mogok tidak mau makan di McDonald’s, dan yang kelimpungan dan kena pecat, ya teman-teman kita sendiri.
Atau justru menyalahkan sejarah. Lha wong kita dijajah sekian ratus tahun, dibikin mandul, dikuras kekayaan harta benda maupun kebudayaan. Ya ada benernya juga. Tapi siapa mau dijajah? Kenapa kita bisa dijajah? Jaman itu kan memang jaman jajah menjajah. Yang Barat ke Timur, yang Timur ke Barat. Sederhana. Lha namanya peta belum komplit, sudah menjadi tabiat manusia untuk mencari tanah baru yang siapa tahu bisa dikeruk emas tembaganya, direbut buat bagi-bagi ke anak cucu. Yah, cuman apesnya, kita yang kalah, itu saja. Memaki sejarah sama saja dengan anjing kehilangan kencingnya, bingung, mau menandai daerah jajahannya tapi tidak kebelet.
Atau menyalahkan nasib kita yang terseret oleh nafsu keduniawian dan meninggalkan “esensi surgawi” yang kita nanti-nantikan.

Di Nusantara yang katanya jamrud khatulistiwa (tapi tinggal katulnya saja), politisi busuk selalu dibilang bukan orang seagama, atau rada lumayan, diklaim sebagai golongan “tidak taat beragama“ atau tidak “sejati“ dalam beragama. Padahal jelas-jelas dia haji, kalau jumatan ya jumatan, kalau hari raya ya berada di deretan paling depan. Orang yang liberalis, dijuluki pula telah menjual agama demi sesuap nasi dari para misionari. Ketika gayeng-gayengnya suasana pemilu, semua tulisan berwarna-warni, memoles dan mengelus, partai-partai. Tak ketinggalan pula partai golongan “hijau” yang santri-santri. Di milis berseliweran kampanye-kampaye, mulai dari yang sekedar menyinggung-nyinggung sampai yang terang-terangan, sampai-sampai ada yang kena cekal. Saling klaim, saling tuding, saling pojok-memojokkan, saling cibir-mencibir. Semua ada, tinggal pilih derajatnya saja yang berbeda-beda.

Pukul 1 lebih sedikit. Mata sudah mulai merah, perut rada keroncongan.

Otakku mulai ngawur, barangkali junkfiles itu sudah mulai berlompatan karena daya redam kafein yang mulai berkurang. Di keremangan antara kengawuran dan ketidakngawuran itu muncul virus-virus yang nakal. Aku tidak tahu mau diapakan, yang barangkali seperti trojan, merusak dari dalam. Aku mulai membayangkan tulisan-tulisan analisis model begituan bisa aku luluh lantakkan, tidak lagi bisa sepenuhnya aku percayai.

Pukul setengah dua, pas.
“Aku” (mestinya kita tahu siapa “aku” yang aku maksud ini) tak lebih dan tak kurang adalah seperti juga manusia lain, entah itu kulit putih, hitam, atau warna warni yang lain, atau seperti juga Yahudi Israel, Yahudi bukan Israel, Kristen, Buddha dan sebutan-sebutan seperti itu. Aku bukanlah makhluk istimewa yang dibikin oleh Tuhan. Kadang aku rajin tapi kadang sering juga malas. Aku merasa lapar dan dahaga, bisa jadi polisi, atau maling, atau keduaya sekaligus. Aku tidak perlu mengklaim diri sebagai bagian dari umat paling baik karena sampai saat ini, paling tidak saat ini, memang sama sekali tidak patut dihadiahi julukan seperti itu.

Tertanda
“Aku“
yang sedang dipengaruhi kafein.

No responses yet

Next »