Archive for the 'Journal' Category

Dec 27 2011

Menanti Khalifah Kontemporer?

Published by under Journal

Sungguh menarik tulisan Fahmi Amhar yang berjudul “80 Tahun Dunia Menanti Khilafah Khalifah” (Republika, 10 Maret 2004). Tulisan tersebut mampu merunut sejarah dengan detail yang mengingatkan kembali pada relevansi kekhalifahan baik di masa lalu maupun di masa kini. Namun demikian, perlu pula kita cermati dengan kritis problem dan kesalahan yang mungkin muncul dalam interpretasi historis itu. Tulisan kecil ini dimaksudkan untuk mengungkap adanya alur berpikir yang sangat mengganggu dalam tulisan tersebut dan mengusulkan sebuah model alternatif bagi pemaknaan khalifah dalam konteks kontemporer. Continue Reading »

One response so far

May 06 2010

Rencana Aksi

Published by under Journal

Kolaborasi dan Sinergi Institusional, Akademik dan Sesumber untuk Pengakuan Keunggulan

*Sudah lama saya tidak mengisi blog ini. Saya coba aktif kembali dengan mengunggah tulisan "Rencana Aksi" yang pernah saya presentasikan ketika pencalonan sebagai Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Saya publish barangkali dapat dipakai sebagai masukan untuk semua pihak. Tulisan ini hanya ringkasannya saja. Secara lengkap saya coba unggah dalam format pdf. Continue Reading »

One response so far

Feb 03 2009

Local Genius: Genius Loci - Local Genuine

Published by under Journal

Genius: jin penunggu suatu tempat;  spirit (ruh), karakter atau semangat yang melekat pada sesuatu; kepandaian yang istimewa dari seseorang (atau institusi?).

Genuine: otentik, unik

(Diringkas dari Dictionary yang muncul di Apple Dashboard)

Di Wisma Djoglo Yogyakarta, hari ini berkumpul sekitar 30 an civitas Universitas Islam Indonesia. Mulai dari Pak Rektor, dosen, karyawan, sampai mahasiswa yang ikut mendukung acara "Lokakarya Identifikasi dan Perumusan Local Genius UII".

Saya berada di dalamnya. Ada banyak acara dan pembicara yang berusaha mengupas tuntas terminologi local genius. Dalam hal ini, karena bagi saya "bicara" lebih mudah terhembus angin, maka lebih baik mencoba urun rembug melalui tulisan: mematerialkan gagasan yang mengalir di kepala saya dengan cara yang lebih menjamin kemudahannya untuk diretrive-dilacak-munculkan kembali.

Mengawali pemahaman dari local genius dari rangkaian kata-katanya yang tampaknya pemahaman tentang genius ini sepertinya "membuyarkan" kalau tidak dirunut pemaknaanya dengan hati-hati.

Local genius sendiri barangkali adalah neologism "yang klop" dengan telinga kita. Di Indonesia, kata ini ditangkap dengan gegap gempita mungkin karena impor (local dan bukan lokal dan genius dengan sendirinya juga asing) dan lebih mudah dipahami daripada genius loci atau local genuine. Saya katakan neologism yang klop dengan telinga kita karena ketika di cek melalui Google "local genius" yang muncul adalah teks-teks berbahasa Indonesia dan justru sangat sedikit teks yang Bahasa Inggris.

Saya lebih cenderung memaknainya terpisah lebih dahulu, baru kemudian mengelaborasinya.

Pertama, sebagai genius loci atau kalau dicari padanannya dalam Bahasa Indonesia adalah kearifan lokal. Namun saya lebih cenderung memulainya dari Genius itu dulu yang beresensikan pada asal muasal katanya yang dari Bahasa Latin. Barangkali memaknai Genius adalah peta peradaban manusia itu sendiri. Ketika manusia masih dalam paras pemahaman mitologis, maka jin penunggu tempat adalah genius. Pemahaman ini berkembang menjadi lebih pada karakter penandaan elemen alam tertentu seiring dengan peradaban manusia yang melihat relasi alam-manusia secara lebih seimbang - antropomorfis. Pemaknaan yang mungkin paling "akhir" adalah kepintaran dan kemampuan seseorang. Bahkan kita dengan mudah mengingat kata genius sebagai padanan kata bagi orang yang sangat pintar - yang berarti justru sangat "universal". Dalam konteks tertentu baru menjadi lokal ketika disandingkan dengan "loci" (tempat), yang di dalam konteks ini bisa dimaknai sebagai entitas institusional UII ini. Maka genius loci UII ini tentu dapat dimaknai sebagai seluruh potensi keahlian yang kemampuan yang dimiliki oleh orang-orang dan sistem (secara umum) yang dimiliki oleh UII. Dengan demikian, ini harus merupakan manifestasi dari spirit keahlian dan sistem institusional UII yang berarti harus menuju pada universalitas, bukan UII minded, tetapi dari UII ke universal.

Kedua, Local Genuine yang berarti keunikan lokal, keotentikan suatu lokalitas tertentu. (Perhatikan genius - genuine yang mirip dalam tulisan dan pengucapan tetapi mempunyai makna yang berbeda walaupun mungkin berakar dari inti kata yang sama (gen, gene). Kita bisa memaknai dari sisi "local" yang membawa kita pada kata local genuine, keunikan lokal ini. Dalam koridor makna ini maka yang dipandang adalah keunikan. Dalam konteks ini maka diskursus identitaslah yang bisa dipakai untuk menganalisis. Unik adalah kondisi ketiadaan entitas yang sama atau hampir sama. Ini berarti kita berhadapan dengan wacana identitas yang selalu modulatif. Kalau saya bertemu teman dari Malaysia maka kita bisa bicara sebagai bangsa Indonesia. Bila bicara tentang Melaka maka kita bisa bicara tentang Jogja. Bila ketemu orang Jerman, kita bilang sebagai Asia dan seterusnya. Artinya, keunikan kita juga harus merefleksikan posisi kita dengan "orang lain" (liyan - others) supaya transaksi identitas ini "nyambung". Merefleksikan hal ini UII sebenarnya telah punya alat: Islam. Islam UII adalah Islam yang "unik" justru karena merupakan Islam yang "tidak berafiliasi" pada lembaga tertentu (bedakan dengan Muhammadiyah atau NU atau yang lain).

Sampai di sini, ada dua kata kunci yaitu genius/kearifan (yang menguniversal) dan genuine/keunikan (wilayah) yang lokal di satu sisi dan "sistem kultur" UII - spirit di sisi lain. Tidak ada sesuatu yang baru...

Persoalan bagi saya yang harus kita diskusikan sebenarnya adalah bagaimana kita harus menjadikan kearifan/ keunikan wilayah/sistem kultur UII ini menjadi instrumental? How to actualize these potentials? Bagaimana mengidentifikasi "critical path" untuk menjadikan instrumen itu diwarnai oleh Islam?

3 responses so far

Jan 11 2009

Non Place, No Space, Nopia Please

Published by under Journal

Sore ini saya duduk di sebuah bangku biru. Bangku ini salah satu saja dari deretan puluhan bentuk serupa yang memenuhi ruang tunggu Bandara Adisucipto. Stop, tak serupa. Ada yang merah dan ada pula warna kelabu berlobang-lobang. Saya duduk di dekat cantelan TV yang tanpa TV, agak di tengah, bersama orang-orang tak saya kenali. Di depan saya dua orang sedang mengobrol sambil melihat-lihat tiket AirAsia mereka, sementara saya sendiri menekan keyboard untuk menepis waktu tunggu, maklum pesawat delay hampir 2 jam. Terpaksa ruang besar berupa ruang tunggu ini menjadi kurungan sementara karena akses ke tempat lain otomatis sudah dibatasi.

Beberapa menit kemudian ada pemberitahuan keberangkatan pesawat, Garuda dan AirAsia sepertinya, tetapi seperti halnya ratusan orang yang lain, saya tidak mengacuhkan. Kedua orang di depan saya bergegas beranjak dari tempat duduk itu dan segera kemudian ada orang lain berganti duduk di depan saya. Sendirian.

Di kursi merah, tepat di bawah televisi, juga agak di tengah-tengah, tidur seorang anak dengan lelap. Ibunya menghirup teh kotak. Glek, saya juga merasa kehausan sekarang, tetapi tengok kanan dan kiri, saya hanya menemukan sebuah kios es krip nun jauh di pojokan sana. Agak malas bagi saya untuk ke sana, maklum kalau ke tempat itu berarti saya harus meringkasi notebook, membawa tas tentengan saya, dan berisiko kehilangan tempat duduk. Maklum pula, ini adalah week end, hari terakhir liburan pula.

Teman seperjalanan saya sudah dari tadi pamit untuk pindah ruang, di ruang merokok, entah di mana.

Non place, begitulah seorang antropolog dari Perancis, Marc Auge, menamai ruang-ruang seperti ini. Ruang yang bukan tempat untuk mapan, tidak ada identitas "tempat" kecuali dengan petunjuk-petunjuk yang serba "generik": agak di tengah, pojokan, dekat pintu dan lain-lain yang sama sekali tidak bisa "diingat". Dan tidak perlu diingat karena ketika panggilan pesawat sudah berkumandang, lokasi itu sama sekali tidak penting. Beda dengan kota, Tugu Jogja, Kraton, Pojok Beteng dan lain-lainnya akan selalu jadi ingatan. Penting, karena bisa jadi memori bagi kota itu. Memory of place.

Kadang non place ini bisa berubah menjadi no space. Tak ada lagi ruang. Persis seperti sore ini yang setiap jengkal kursi sudah hampir dipenuhi oleh para calon penumpang. Saya juga membayangkan penuh sesaknya Lempuyangan atau Stasiun Tugu. Tak bisa saya bayangkan tempat seperti kereta ekonomi yang pastilah untuk duduk pun akan susah. Apalagi ketika mudik Lebaran. Saya masih beruntung karena mendapatkan sebuah kursi dan dapat dengan tenang memenceti keyboard menciptakan memori untuk sebuah kursi di tengah-tengah - agak geser sedikit dekat gate 2 - ruang tunggu Bandara Adisucipto.

Jadi ingat masa lalu, ketika wira-wiri Jogja - Jakarta memakai kereta api. Ketika 'masa perjuangan' mengapeli istri yang sedang kursus Bahasa Jerman di Jakarta sembari mengurusi anak (bayi) kami yang baru saja lahir.

Glek.. jadi ingat nikmatnya nopia yang dijajakan di kereta api itu. Itu saja yang saya ingat. Memory of non place?

One response so far

Nov 30 2008

Workshop Technopreneurship

Published by under Journal

Karena ditugaskan oleh Rektor, saya berkesempatan mengikuti Workshop Technopreneurship yang diselenggarakan oleh Dikti tanggal 29-30 November ini. Workshop ini memunculkan gairah yang sangat tinggi dalam menyadarkan peran sebuah universitas di era global ini.

Data-data menunjukkan 83% sarjana menjadi buruh/karyawan sementara hanya 16,4% menjadi pekerja mandiri. Bandingkan dengan lulusan SMA/SMK yang justru lebih mandiri. Statistik dunia memang hanya 5% yang menjadi job creator. Akan tetapi, dalam ekonomi yang berubah ini maka universitas harus mampu mengisi 5% itu ketimbang membiarkan universitas tanpa peran berarti.  Artinya universitas harus mampu menjadi "jalan" untuk merancang hidup dari pada sebuah "kecelakaan" atau "keturunan dan bawaan" yang mengantarkan mahasiswa menjadi sukses.
Technopreneurship lah yang harus diberikan kepada mahasiswa di samping pengetahuan "standar" untuk menjadi seorang sarjana. Technopreneurship sebenarnya adalah entrepreneurship namun mempunyai bobot dan fokus pada teknologi. Ini bermula dari pergeseran ekonomi dari old industrial economy menjadi ekonomi yang lebih berbasis enterpreneur - services.

Dalam technopreneurship ini ada beberapa hal yang sangat penting.

1. Technopreneurship memerlukan kolaborasi interdisipliner untuk menciptakan kemitraan.
2. Ia memerlukan kelembagaan dan kebijakan yang mendukung dan berkesinambungan
3. Membutuhkan pembiayaan, mekanisme dan skim yang tepat agar tepat sasaran dan akuntabilitas yang tinggi.
4. Adanya skema pembinaan yang berkelanjutan baik berupa mentoring, monitoring dan evaluasi yang berkesinambungan.
5. Harus mempunyai dampak ke mahasiswa yaitu menjadi entrepreneur baru.

Dengan "mendengar" pengalaman-pengalaman teman-teman dalam diskusi kelompok, saya mengidentifikasi adanya beberapa model yang bisa diadopsi dalam mengembangkan technopreneurship itu di universitas. Model itu saya namakan "The Five Star of Technopreneurship Model Implementation through Co-Curicula"

Model "Inkubasi"
Model ini menitikberatkan pada pentingnya kontinuitas dalam menjamin afeksi mahasiswa agar berjiwa dan mempunyai pengalaman entrepreneur. Ini dilakukan di beberapa universitas seperti IPB, UNS dll melalui Lembaga Pusat Pengembangan Kewirausahaan.
Tahap implementasi:
1. Perubahan mindset saja tidak cukup. Akan tetapi sangat perlu paling tidak dalam bentuk kuliah kewirausahaan.
2. Mentoring sebagai jaminan untuk kontinuitas.
3. Pengalaman melalui pemagaman.
4. Seleksi untuk menjadi techno/entre dan di tingkat akhir dipersiapkan untuk menyiapkan bisnisnya sendiri (mengaplikasikan business plan) dan pendanaan, kalau belum begitu siap dimasukkan ke inkubasi bisnis.

Model Coop

Model ini menitikberatkan pada penciptaan kemitraan sebagai kunci pengembangan entrepreneur mahasiswa dengan menggandeng unit bisnis yang sudah ada (UKM). Kemitraan diharapkan akan memberi nilai tambah.

Tahapan (Versi UPI):
1. Sosialisasi internal dan eksternal
2. Seleksi ke mahasiswa dan UKM. Seleksi ke mahasiswa meliputi softskill dan akademik. Seleksi UKM juga dilakukan. Hasil dari evaluasi ini adalah pemetaan kebutuhan.
3. Memitrakan
4. Mengembangkan unit bisnis peserta coop
5. Monitoring dan Evaluation Terpadu, mentoring yang mengkaitkan institusi, dinas dan dikti.
6. Seminar Pasca Coop. Mahasiswa diminta membuat presentasi hasil coop.

Model Workshop / Showroom

Model ini menitikberatkan pada kemampuan internal dan menciptakan mekanisme agar produk internal tersebut dapat diterima oleh pasar atau masyarakat. Contoh adalah "Workshop Techno" / "Showroom Techno" yang dilakukan oleh Undip dengan PT DipoTechno, iCell, Lembaga Bantuan Arsitektur, Rumah Produksi Indonesia.

Tahapan:
1. Seleksi karya mahasiswa dan dosen.
2. Pembuatan produk, muster, contoh.
3. Buat showroom agar dapat dilihat oleh market.
4. Legal formal dan marketing melalui perseroan terbatas atau badan hukum lain.

Model Community - Creative Event

Model ini menitikberatkan pada penciptaan komunitas entrepreneur. Event berupa pameran, seminar dll diciptakan untuk mendatangkan masyarakat atau pasar agar produk komunitas tersebut dapat ditangkap. Contoh yang mengembangkan cara ini adalah UKSW: Event TechnoDay atau Ubinus.
Tahapan:
1. Bentuk komunitas, misalnya IT
2. Pendampingan untuk menciptakan bisnis berbasis IT
3. TechnoDay: mengeksplorasi karya dan "seleksi" mana yang bisa ditawarkan kepada internal maupun eksternal.

Model Action Business

Model ini menitikberatkan pada pengalaman "terjun langsung" membentuk unit bisnis. Yang terpenting adalah menciptakan situasi agar mahasiswa langsung membuat "start up business" Contoh: Model "Action Business Learning" dari Poltek Pontianak.

Tahapan:
1. Studi kasus: mahasiswa datang ke pengusaha untuk belajar.
2. Mahasiswa buka usaha dan dimentoring oleh lembaga Mentoring Unit
3. Pembiayaan dengan kredit KUR.
4. Institusi bertugas dalam business advisor, marketing, akses financing, link dan network.
5. Buat Entrepreneur award berupa pendanaan.
6. Bentuk Entrepeneur Club untuk mendorong sharing mahasiswa, menginisiasi kolaborasi antar mahasiswa).

No responses yet

Next »