Archive for the 'Information Technology' Category

Jan 01 2012

Memulai Hari

Published by under Information Technology

Dear All

Di pagi tanggal 1 Januari 2012 ini kumulai hariku dengan menginstalasi wordpress app di mobile-phoneku sambil berharap agar koneksifitas dengan blog ini memang benar-benar bisa mobile.

Barangkali tahun ini memang akan bertema mobilitas karena yang dalam rencana kerja kok ya memang banyak sekali. Hari ini juga ingin mengaktifkan virtual office yang sudah disediakan kampus agar pengelolaan skejul dapat lebih baik lagi.

Mari kita tingkatkan kemelekan kita terhadap IT karena ini sudah jamannya. Keberhasilan sebuah implementasi teknologi informasi ternyata justru sangat ditentukan oleh adanya komitmen manajerial, bukan pada teknologinya ataupun para pemakainya. Artinya, melihat apa yang dimiliki UII saat ini misalnya, justru komitmen para pimpinan dalam berbagai levelnyalah faktor penentu keberhasilan atau ketidakberhasilan. Saat ini kita telah memiliki banyak sistem misalnya e-doc, e-office, wiki, forum, repository, podcast, blog dll, namun sayangnya masih dengan tingkat pemakaian yang sangat rendah. Di sinilah peran manajemen untuk menjadikan seluruh fasilitas virtual space tadi terimplementasi melalui menjadikannya bagian dari proses manajemen dan perilaku keseharian. Namanya saja virtual space, sebuah ruang yang hampir nyata yang perlu untuk diaktualisasi (kalau tidak salah bahasa Elizabeth Grosz dalam bukunya Architecture from Outside). Blog, email, edoc, ataupun forum dan sarana virtual lainnnya sangat mudah dilupakan karena memang setengah gaib dan kehidupan kita seakan tak kurang apapun tanpa kehadirannya. Tanpa upaya selalu diaktualisasi melalui proses-proses nyata (dipakai keseharian, diintegrasikan dengan proses bisnis dll) seluruh fasilitas tersebut akan muspro dan kita hanya akan business as usual yang tidak akan mendapat manfaat apapun dari eksistensinya, kecuali barangkali sekedar gaya.

Tertanda
Saya, dengan input dari mobile phone

2 responses so far

Dec 28 2009

Hybrid University

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kesempatan untuk mengikuti International Symposium on Online Distance and Electronic Learning (ISODEL 2009) di Sheraton Yogyakarta. Tepatnya 8 - 11 Desember 2009 yang lalu. Sudah agak telat memang posting ini. Simposium ini dihadiri oleh lebih dari 500 orang dalam dan luar negeri. Sebuah hajatan dari Departemen Pendidikan Nasional yang sangat besar.

Dalam ISODEL kali ini dibahas secara luas banyak konsep yang sekarang ini menjadi state of the arts dalam dunia pembelajaran. Namun saya akan fokus pada dua trend saja.

Tren pertama adalah tentang pembelajaran yang menuju pada paradigma konstruktivis. Dalam pandangan ini siswa dapat mengkonstruksikan sendiri pengetahuan yang ingin didapatkan. Artinya, sekolah melalui kurikulum dalam batas-batas tertentu akan menjadi ajang bagi tumbuhnya kreatifitas individual di satu sisi dan standar mutu dan pengetahuan di sisi lain. Sekolah yang seperti ini berarti telah berubah lansekapnya, artinya sekolah telah menjadi lingkungan yang memungkinkan siswa mencari pengetahuan sendiri (paling tidak ada perpustakaan dan internet yang baik koneksinya) kemudian menjadi venue untuk saling belajar dari pengetahuan yang dikumpulkan oleh siswa baik dalam bentuk kelas maupun "belajar informal" di luar kelas. (Saya jadi ingat ketika kuliah dulu, sebagian besar pengetahuan justru didapat di kantin atau ketika jagongan di mushala ketika mendengar kakak kelas membahas trend arsitektur terbaru yang justru tidak dibahas di kelas). Lansekap yang berubah ini juga akan mengempiskan "mitos" bahwa guru atau dosen adalah sumber ilmu - sebuah kepercayaan yang selama ini masih melekat dan sadar atau tidak masih banyak dipraktikan oleh kita para pendidik ataupun dalam kurikulum dan penentuan kebijakan.

Trend kedua adalah penggunaan ruang digital terutama web generasi 3 (WEB.2). Saat ini siswa mana yang tidak kenal dengan facebook, twitter atau blog? Justru yang banyak belum kenal adalah guru atau dosennya, apalagi mempunyai akunnya. Facebook dan blog adalah contoh teknologi web generasi 2 yaitu social networking. Teknologi ini secara teknis memungkinkan menjadi bagian dari proses diseminasi pengetahuan dan pembelajaran. Siswa juga telah familiar dengan google dan wikipedia yang memungkinkan mereka mencari berbagai jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di kelas dan dibahas oleh dosen selama berjam-jam dalam kelas. Dengan teknologi ini kini telah terjadi masifikasi pengetahuan.

Kedua trend ini cepat atau lambat akan sangat mempengaruhi bagaimana sekolah atau universitas berperan. Yang kritis dalam dunia yang berubah ini adalah cara pandang sekolah atau universitas yang seakan-akan menjadi satu-satunya otoritas dalam pembelajaran. Implikasinya, mereka akan menentukan materi apa yang harus didapat oleh siswa secara masif. Dalam lansekap yang berubah ini maka cara pandang ini harus dikurangi. Sekolah dan universitas bukan menyeleksi materi apa yang harus diberikan akan tetapi lebih pada memberi kerangka bagaimana para siswa mampu bersikap terhadap pertanyaan dan persoalan. Yang lebih penting lagi adalah memupuk kemampuan untuk mengkonstruksi pertanyaan dari fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Artinya justru ada koneksi yang sangat erat dan langsung antara pembelajaran dengan fenomena keseharian melalui pengetahuan yang dikonstruksi sendiri oleh mahasiswa - bukan semata berdasar tabir dari sang dosen atau guru.

Beranikah sekolah dan universitas kita memulainya? Menjadi hybrid school atau hybrid university dimana otoritas dalam pembelajaran tidak lagi 'mutlak' di tangan para pengampunya?

No responses yet

Aug 09 2008

Mailing List: Ruang Demokratis?

Saya tulis 3 Maret 2004 di Marburg, Jerman.

Bak mainan baru bagi seorang anak-anak, mailing list menjadi marak sejalan dengan perkembangan dan kemudahan akses internet di hampir seluruh penjuru dunia. Di Indonesia,dan masyarakatnya di manapun berada, pun keranjingan dengan model komunikasi baru ini. Mulai dari yang sekedar mecoba-coba dan sekedar pasif mengikuti sampai secara serius menggunakannya untuk berbagai macam konsolidasi dan koordinasi. Mailing list adalah model komunikasi yang menyandarkan pada ketidaksimultanan (asinkron) interaksi antara si penulis dengan pembaca, menjadikan pesan selalu “terpenggal” olehnya namun mampu melintasi ruang dan waktu. Berbeda secara total dengan saresehan atau tongkrongan di warung tegal dimana pesan-pesan akan disinkronisasi oleh kebersamaan ruang dan waktu, namun akan buyar ketika waktu memaksa pembicara bubar atau warung tegalnya dibongkar tramtib.

Ruang Virtual
Mailing list, konon, dianggap merupakan bagian dari ruang virtual yang dibentuk oleh jaringan komputer yang menyimpan pesan-pesan itu dalam entitas “bit” yang bukan material. Ruang virtual, konon, dikatakan sebagai “ruang” tetapi bukan ruang dalam arti fisikal atau geografis. Ia dianggap mempunyai kualitas yang dapat dianggap, dipikirkan, diimajinasikan sebagai ruang, tetapi tidak bisa dirasakan kehadirannya dalam dunia material. Oleh karenanya ia dinamakan “virtual” yang secara umum berarti “seperti,” “mendekati,” “seolah-olah” seperti ruang fisik tempat kita bersenda gurau saling tonjok.

Ruang virtual itu juga dianggap seolah-olah merupakan ruang publik yang memungkinkan kita berinteraksi dengan banyak orang (sekali lagi: asinkronis) entah dengan identitas “nama beneran” ataupun yang disembunyikan dengan nama samaran. Namun demikian, baik ruang fisik maupun bit ini adalah realitas: yang fisik telah “biasa” kita lakoni sementara yang virtual, seperti “mainan baru” yang masih butuh dipahami dan dieksplorasi. Mailing list, diidamkan oleh sebagian orang sebagai ruang publik “baru” yang memungkinkan realitas-realitas baru bermunculan. Ketika kita bertemu muka, adat, tradisi, atau hierarki memaksa kita untuk, misalnya, hormat kepada tetua. Saking hormatnya, kadang menjadikan luapan emosi atau ketidaksetujuan menjadi terpendam dalam kuluman belaka. Kadang pula, lantaran ewuh dan pakewuh, suatu perkara tidak mungkin dilontarkan secara terbuka melalui komunikasi simultan ala jagongan di gardu ronda. Mailing list menjadi alternatif munculnya “alam bawah sadar,” “realitas terpendam”, dan, sedikit atau banyak, membongkar jeratan tradisi, hierarki atau ewuh pakewuh. Ia menjadi ruang publik baru yang memungkinkan kaum yang “tak terwakili,“ atau “minoritas,” atau “individu terjajah,” bersuara nyaring tanpa
harus secara frontal berhadapan muka yang kadang-kadang membuat gamang itu. Entah itu berupa suara minoritas, suara “sengak,” kritikan pedas, luapan emosional, semua adalah pesan yang pasti, sedikit atau banyak, mempunyai pijakan yang mempunyai korelasi dengan realitas “fisikal.” Adalah tugas kita semua untuk menampung kata-kata itu dan mencari ikatan kebenarannya di ruang fisik sekeliling kita.

Duplikasi Relasi Sosial?
Mailing list, adalah ruang fenomenologis yang sedikit atau banyak mampu memberi gambaran pada hal-hal yang tidak semuanya bisa dilihat dengan mata dan indera. Namun demikian, idaman ini pun kadang bisa sirna. Ketika mailing list telah “dikelola“ dengan penciptaan kriteria-kriteria. Ada pesan yang boleh dan tidak boleh di luncurkan. Ada warga yang boleh masuk dan harus dikeluarkan. Ada yang berhak menilai mana yang layak tayang mana yang bukan. Dan seterusnya. Ruang virtual ini, dengan berbagai kriteria dan peraturan, diidamkan menjadi ruang yang “mulus” tanpa hentakan, gesekan, saling senggol dan saling tubruk. Seakan-akan sebuah mailing list akan menjadi ideal ketika hal-hal itu mampu diredam dan dihilangkan. Peraturan, “moderator,“ atau siapapun yang menjadi “pengelola“ mailing list telah menjadi otoritas baru yang merenda adat dan tradisi baru bagi ruang publik virtual ini. Dan ketika otoritas baru ini demikian canggihnya tersusun, secara tidak sadar telah menciptakan
duplikasi hirarki, tradisi, adat yang menjadikan, sekali lagi, kaum tertindas, kaum minoritas, kaum pemberontak, tak lagi punya tempat berpijak. Sunyi, tak bersuara. Telah hilang satu realitas, tertindas oleh jeratan otoritas.

Mailing list, seperti mainan baru bagi anak-anak, yang masih harus dipelajari dan dieksplorasi. Saya kemudian melihat ke anak-anak. Mereka mendapat kepuasan dan pelajaran ketika si orang tua memberi “kebebasan” untuk berkreasi dengan mainan itu. Saya lantas bertanya-tanya berkaitan dengan mailing list yang seakan-akan mainan orang dewasa itu, bisakah kita mendapatkan “kepuasan” dengan mengekang-kekang kendali tidak karuan? Ataukah kita bisa dengan sendirinya menciptakan adat baru tanpa harus merasa terbelenggu? Atau memang kita suka membelenggu diri sendiri?

No responses yet

Jul 29 2008

Mail

Published by under Information Technology

Pagi ini saya mendapat berita gembira dari Pak Trisna, masternya jaringan di UII. Beliau memberitahukan bahwa upgrade mail server kita berhasil. Artinya, kuota mail account untuk user dapat ditambah. Tambahan ini cukup signifikan yaitu menjadi  sebesar 100mb untuk bertambah untuk masing-masing staff account dan 50mb untuk student account.

Nilai ini barangkali akan 'dicibir' karena orang pasti akan membayangkan gmail dan yahoo yang bisa memberi kapasitas jauh lebih banyak (1 gb) dan fitur yang barangkali juga lebih variatif. Dan dengan alasan itu masih banyak staf dan mahasiswa kita yang tidak aktif memakai mail kita sendiri.

Dari sisi BSI sebagai pengampu layanan teknologi informasi saya hanya bisa sedikit bertanya: kapan kita bisa menghargai dan mencintai milik sendiri?

Secara institusional, bagi saya, memakai mail gratisan (gmail ataupun yahoo atau yang lain) untuk berkomunikasi dengan pihak lain akan mengurangi kredibilitas kita. Saya pribadi menjadikan mail uii maharika(dot)ftsp(dot)uii(dot)ac(dot)id sebagai mail utama. Saya memang punya yahoo, tapi sekedar untuk 'tong' memforward email dari berbagai milis (bukan milis dosen UII tentu) dan arsip-arsip saja. Untuk berkomunikasi global saya tetap memakai mail UII itu. Dan saya bangga memakainya. Saya pun tak punya masalah dengan kuota karena mail kita mempunyai fasilitas auto forwarding dan juga POP mail (saya POP dengan mail client di Macbook saya).

Pun, BSI dalam hal ini mengembangkan satu kebijakan pemberian layanan informasi password untuk jurnal Proquest dan Ebsco misalnya hanya melalui mail UII. Blog staff UII juga hanya untuk yang mempunyai mail UII. Dan ke depan, setiap account juga akan dikembangkan dengan storage dan kemampuan single sign on (otentifikasi dengan satu account untuk seluruh layanan IT di UII). Perlu juga diingat, mail UII sudah dilengkapi dengan spam filter (harga alat ini cukup mahal) sehingga mail kita relatif bersih dari sampah, pun virus juga sebagian besar sudah terpental. Akses mail kalau di kampus juga akan menjadi lebih cepat karena berbasis LAN.

Jadi, kenapa tidak memakai mail kita sendiri dan mencintai karya kita sendiri?

No responses yet