Dec 27 2011

Menanti Khalifah Kontemporer?

Published by at 12:38 am under Journal

Sungguh menarik tulisan Fahmi Amhar yang berjudul “80 Tahun Dunia Menanti Khilafah Khalifah” (Republika, 10 Maret 2004). Tulisan tersebut mampu merunut sejarah dengan detail yang mengingatkan kembali pada relevansi kekhalifahan baik di masa lalu maupun di masa kini. Namun demikian, perlu pula kita cermati dengan kritis problem dan kesalahan yang mungkin muncul dalam interpretasi historis itu. Tulisan kecil ini dimaksudkan untuk mengungkap adanya alur berpikir yang sangat mengganggu dalam tulisan tersebut dan mengusulkan sebuah model alternatif bagi pemaknaan khalifah dalam konteks kontemporer.

Logika monolitik Kita memang sepakat bahwa dunia saat memang sedang mengalami krisis yang teramat sangat seperti yang diungkap dalam tulisan Fahmi Amhar. Kapitalisme yang digenjot oleh globalisasi menjadikan ketimpangan yang luar biasa besar yang disebabkan oleh penggelembungan di satu sisi dan pengempisan di sisi yang lain. Kapitalisme global terus berekspansi dan mempenetrasi sektor-sektor yang paling domestik dan tradisional namun hanya menggelembungkan saluran-saluran menghubungkan aktor-aktor dan negara-negara “pemeran utama” (misalnya foreign direct investment sebenarnya hanya dominan beredar kalangan 30 negara OECD saja). Diyakini pula, bahwa dunia memang memerlukan overhaul yang mendasar dan radikal untuk bisa berkesinambungan. Debat panjang dan tajam muncul dalam bentuk perlawanan anti globalisasi tidak hanya di aspek ekonomi tetapi juga sosial dan budaya, tidak hanya dalam bentuk demonstrasi jalanan tetapi juga berupa World Social Forum yang berupaya menandingi kekuatan World Economic Forum.

Namun demikian, kita tidak bisa menumpahkan seluruh ‘kesalahan struktural’ ini pada dominasi ‘negara maju’ seperti halnya tulisan Fahmi Amhar. Dalam tulisan itu, bahkan, pemahaman universal seperti hak asasi manusia dan demokrasi dianggap sebagai sebuah topeng bagi eksploatasi negara maju terhadap negara-negara kurang atau tidak maju. Logika seperti ini adalah sebuah logika yang monolitik. Artinya, kita tidak memandang adanya dinamika dan pluralitas dalam negara maju itu. Kita sekali tidak memperhitungkan bagaimana mereka

juga gigih dalam upaya untuk menciptakan sumber energi alternatif, melipatgandakan sumber pangan, menangani problema sampah dan polusi, melindungi kaum perempuan, anak-anak dan kaum diffable (different ability – orang cacat) dari penindasan dan eksploatasi serta pembatasan lain. Gerakan seperti Greenpeace, partai-partai Hijau, Vote No War, adalah gerakan yang secara inheren ada dalam negara maju itu sejalan dengan pemahaman mereka terhadap problema yang memang mereka (dan dunia) sedang hadapi. Dalam hal ini kita harus secara objektif, atau paling tidak berusaha untuk objektif, bahwa dalam diri kita pun, sedikit atau banyak, meniru apa yang sedang dunia maju lakukan (dalam merusak alam dan lain-lain). Industrialisasi yang sedang kita giatkan berarti juga peningkatan pembakaran minyak dan hutan-hutan yang menghasilkan CO2. Namun justru karena kita sedang giat-giatnya „membangun“ kita mengesampingkan perlindungan alam, dll., dengan dalih mengejar ketertinggalan. Atas nama foreign direct investment kita tak tanggung tanggung membabat hutan kita sendiri dan kemudian kita menyalahkan mereka yang menanam modal di hutan kita. Memandang secara monolitik akan membius kita untuk tidak mampu mengoreksi diri kita sendiri.

Di sini, kita harus bisa membebaskan diri dari logika monolitik naif seperti ini. Artinya, bukan dengan membedakan antara kita dengan negara maju tetapi dengan kemampuan untuk menilai siapa aktor-aktor yang mendorong pada eksploatasi berlebihan dan aktor yang ingin secara kritis melihat batas-batas eksploatasi itu. Keduanya ada baik di negara maju maupun kurang atau tidak maju. Persoalannya, menurut hemat penulis, bukan dengan menyalahkan negara maju tetapi bagaimana memperkuat aktor yang mendukung pembatasan eksploatasi itu dimanapun mereka berada.

Islam di sini harus mampu meninjukkan keberpihakannya secara jelas dan tegas.

Islamosentris

Kritik kedua penulis adalah pada sudut pandang yang Islamosentris. Secara tersirat, khalifah dalam tulisan Fahmi Amhar dimaknai sebagai sebuah struktur kenegaraan yang konstan dari masa Nabi hingga tumbangnya Khalifah Osmaniyah di Turki dimana ketika itu struktur ini dianggap berhasil secara empiris membawa Umat Islam pada posisi ‘memimpin dunia.’ Pemaknaan ini kemudian dikonfrontasikan dengan kondisi kontemporer dimana Umat Islam tidak lagi memimpin dunia dan ketiadaan faktor khalifah yang konstan itu. Dengan ini lantas diindikasikan bahwa dunia menunggu kedatangan khalifah, yang dimaknai tetapi secara konstan (barangkali?) untuk menghadirkan kepemimpinan Islam.

Problem yang ingin penulis sampaikan ada dua. Pertama adalah pemaknaan „khalifah“ yang sangat statis. Sekali lagi, Fahmi menalar dengan pemikiran monolitik yang melebur keragaman, dinamika, evolusi dari konsep dan praktek kekhalifahan tersebut. Paling tidak, praktek kekhalifahan di masa Rasulullah hidup pun sudah sangat berbeda secara fundamental dengan masa Khulafaur Rasyidin, apalagi dengan model Turki Osmani. Ketika Rasul masih hidup otoritas tersentral di tangan beliau, berbagai persoalan dengan mudah dirujuk pada otoritas tersebut. Di masa Khalifah yang Empat, telah terjadi ‘distribusi’ otoritas dalam derajat yang berbeda-beda. Di jaman sesudah itu, otoritas tidak lagi sekedar terdistribusi tetapi juga terabstraksi dengan interpretasi- interpretasi tekstual yang menghasilkan berbagai macam konsep dan praktek kekhalifahan tersebut. Seandainya kita berpikir dengan kerangka evolutif seperti ini, maka konsep kekhalifahan adalah konsep yang dinamis yang tidak bisa diangggap ‘satu’.

Keberatan kedua adalah pada cara pandang Islamosentris dalam spatio- temporal jaman “13 abad Umat Islam diperhitungkan.” Cara pandang ini berimplikasi menciptakan bayang-bayang Islam sebagai sebagai aktor dominan kekuatan dunia. Bahkan sangat mungkin, dengan pemikiran ini, Islam saat itu dibayangkan seperti halnya dominasi peradaban Barat saat ini.

Kalau kita membaca sejarah sekali lagi, model dominasi itu terletak secara fundamental mengalami perubahan setelah keberhasilan Eropa menemukan Amerika (1492). Di tahun ini entitas dunia sebagai sebuah keutuhan muncul menggantikan konfigurasi regional. Sebelum 1492, yang terjadi saat itu adalah dunia yang masih belum sepenuhnya dipahami secara utuh yang terbagi-bagi dalam berbagai entitas - yang kalau menurut thesisnya Huntington - bernama peradaban. Ada Islam, ada China, India, dan Eropa (Amerika belum ditemukan) dan peradaban-peradaban ‘minoritas’ lainnya. Mereka semua berada di teritorinya sendiri-sendiri. Mereka „berjaya“ di teritorinya sendiri-sendiri yang semuanya luas itu. Pertikaian, maju mundur, tentulah terjadi sepanjang garis batas dari masing-masing peradaban itu. Hubungan antar entitas itu pun ada tetapi dalam kondisi yang sangat awal dan terbatas. Tepat di masa ini, kita sama sekali tidak bisa memposisikan kekhalifahan Islam sebagai kekuatan dominan di dunia karena masing-masing mempunyai teritorinya sendiri-sendiri, mempunyai pusatnya sendiri-sendiri pula. Masing-masing mempunyai bahasa lingua franca sendiri-sendiri pula (Latin, Arab, Sanskrit, China). Hubungan (dan kompetisi) tentu terjadi tapi sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kondisi sekarang ini. (Marcopolo misalnya butuh waktu belasan tahun untuk bisa mengabarkan kejadian di Peking ke Venesia). Di dalam ‘Khalifah Islamiyah’ itu sendiri terdapat juga persaingan kekuatan, pergolakan, saling serang, jatuh bangun, seperti yang juga terjadi di peradaban-peradapan lainnya. Di

sini, maka kita harus bisa memaknai khalifah Islamiyah sebagai salah satu dari berbagai entitas teritorial (dan „ideologis“) yang ada sebagai satu dari beberapa (as one among others). Pandangan Islamosentris tidak bisa diterapkan begitu saja dengan mudah tanpa menghilangkan peran peradaban yang lain.

Pasca 1492 adalah episode yang lain. Di masa ini, Eropa yang menemukan sumber daya yang luar biasa besar lantas mampu membangun armada yang kuat yang mampu mengalahkan kekuatan armada Muslim, China, dan India. Dengan emas dan perak rampasan ini mereka mampu membuat galeon-galeon raksasa yang mampu memburu di mana pun kekayaan berada. Dan karena itu mereka butuh sistem dan penyederhanaan-penyederhanaan di semua sektor. Modernisasi timbul sebagai akibat dari tekanan untuk mengelola kekayaan (kapital) yang besar itu. Tak mengherankan, Eropa yang melaju itu dibarengi dengan kemunduran di peradaban lain yang “asyik” dengan dominasi parsial di lingkungannya sendiri. Maka relasi dominasi-subordinasi dalam skala dunia baru terjadi di masa ini pasca 1492. Peradaban Eropa (sekarang kita namakan Barat) mampu mendominasi dalam konteks global seperti sekarang ini. Tepat sekali, dalam sistem konstelasi global ini pandangan Islamosentris tidak lagi bisa dipakai karena hanya akan menghasilkan benturan dengan Eropasentris yang juga sedang kita kritisi itu.

Islam sebagai Alternatif dan Khalifah Kontemporer

Penulis sependapat bahwa Islam bisa menjadi alternatif, namun bukan dalam relasi oposisional melainkan multiplisitas. Di sini, kita harus mampu untuk tidak berpikir secara monolitik dan Islamosentris yang hanya akan mengulang kesalahan dari ekspansi Barat yang didasari oleh kedua paradigma itu (dahulu paling tidak). Artinya kita harus sadar untuk menjadi salah satu elemen dari keseluruhan.

Kapitalisme “sekarang ini” kuat dan sekaligus “salah” adalah karena ia expansif dan implosif. Ia eksplosif karena semakin menjalar kemana- mana, melalap dan menginkorporasikan apa saja. Tetapi ia juga implosif karena penjalaran ini diciptakan dengan menggelembung ‘saluran- saluran’ tertentu saja, tidak secara totalitas. Model seperti ini memang didasari oleh misionari Kristen yang mengejar pembesaran teritori, menaklukan terra incognita, merubah budaya dan bahasa ketika itu. Seperti Romawi dalam menaklukkan Eropa. Ketika penulis bicara tentang Islam sebagai alternatif, adalah bukan dengan meniru model seperti itu. Islam yang datang dari gurun, inti kekuatannya ada di sifat nomadisnya. Nomadis tidak ekspansif sebagaimana model pertama.

Ia tidak mengenal teritori tetapi lebih merupakan proses perubahan manusia (suku-suku yang nomaden itu) dari yang tidak beriman menjadi beriman. Proses Islam menjadi struktur masyarakat diserahkan kepada masyarakat setempat. Ia menelusup di antara jaring-jaring kekuatan yang ada tanpa harus merusak struktur masyarakat yang ada. Yang terjadi adalah bukanlah Islam yang „satu“ dalam artian teritorial tetapi sangat meragam, bahkan patchwork. „Alternatif“ di sini juga tidak berarti satu entitas imperium ideologis tetapi lebih merupakan beragam berupa kultur.

Di sini lantas kita harus bisa menafsirkan „khalifah“ kontemporer. Apakah ia berarti „memimpin dunia“ seperti halnya Barat saat ini mendominasi dunia ataukah ia adalah pemimpin Umat Islam untuk menjadi salah satu bagian integral dari umat dunia. Pendapat penulis jelas yang kedua, karena memimpin dunia dalam arti pertama hanyalah akan mengulang kesalahan model Eropasentris yang saat ini sedang kita lawan. Di sini pula, saya „memisahkan diri“ dengan tidak mengartikan khalifah secara konstan sebagai kelanjutan dari dinasti-dinasti masa lalu. Dalam kaca mata penulis, ia harusnya dalam bentuk yang berbeda. Ia bukan satu melainkan jamak, yang membawa Umat Islam sebagai warga dunia entah dimanamun ia berada. Barangkali yang kita nantikan bukanlah sosok individu atau negeri, melainkan sebuah bentuk masyarakat nomaden yang menelusup kemana-mana, membawa pesan ilahiyah yang merahmati tak terbatasi ruang dan teritori. Bagi penulis, khalifah sejati kontemporer, adalah mereka yang mampu berdamai dengan keinginan untuk menjadi pemimpin dunia dan mampu memulai dengan berdamai dengan „musuh“ yang akan dilawan.

Menghilangkan pemikiran monolitik dan Islamosentris adalah prasyarat untuk menyemai khalifah-khalifah ini. Dengan begitu, jalan Allah dengan sendirinya akan terbentang, di padang tandus yang dipenuhi kekafiran sekalipun!

(Ditulis tahun 2004 sebagai sebuah tanggapan atas tulisan Fahmi Amhar, 10 Maret 2004 yang dimuat Republika http://www.republika.co.id/ASP/kolom_detail.asp?id=155393&kat_id=16)

One response so far

One Response to “Menanti Khalifah Kontemporer?”

  1. Khalifatul Ard Moektion 16 Jan 2012 at 2:12 am

    Sebuah penjelasan yang bagus untuk memberikan satu paradigma berfikir.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*