Dec 27 2011

Islam dan Barat

Published by at 12:31 am under Reflective Discourse

Sebuah tulisan keprihatinan terjadinya pemboman Hotel Marriot di Jakarta 5 Agustus 2003 lalu, dan saya kira masih relevan untuk masa kini.

Di mailing list, di pengajian, di majalah Islam, banyak analisis disampaikan dengan cermat maupun spontan bahwa Islam itu berbeda dengan Barat. Bukan hanya sekedar berbeda namun telah diposisikan menjadi oposisi atau lawan kata dari Barat. Bahkan dalam banyak tulisan disertai pula dengan saran dan ajakan untuk menolak apa-apa yang merupakan “produk Barat.” Tapi dalam tulisan kecil ini saya ingin memperlihatkan bahwa ketika kita mendudukkan Islam sebagai oposisi dari Barat maka kita sedikit banyak telah mencampuradukkan antara apa yang diperangi dan apa yang dicita-citakan oleh Islam. Artinya kita justru malah mengkaburkan tujuan mulia Islam itu sendiri dan mengulang kesalahan yang telah dan sedang dilakukan oleh Barat.

Modernitas, gaya hidup dan Islam

Dalam tulisan-tulisan itu kita jarang membedakan antara modernisasi dengan globalisasi, antara nilai universal dengan kejadian atau contoh yang mengglobal lewat TV, filem dan Intenet, yang dalam banyak kasus muncul dari Barat tetapi bukan melulu milik Barat. Jadi ada kesimpangsiuran dalam analisis ketika kita mendudukkan Islam dengan Barat dalam koridor terminologi-terminologi tersebut. Saya akan mencoba mengupasnya satu per satu.

Ada banyak cara untuk menganalisis hubungan anatara Islam dengan Barat dalam konteks ini. Bisa salah satunya dengan jalur sejarah. Dalam sejarah, kita tahu bahwa modernitas yang muncul di Barat itu bisa dikatakan merupakan anak kandung dari Islam. Islam mengadopsi dan mengantarkan pengetahuan dan filsafat Yunani ke Eropa dan ke Islam. Renaissan yang terjadi di Eropa menjadi global sementara yang terjadi di Islam menjadi sistem yang lebih regional. Hal ini terjadi karena secara bersamaan Eropa ketika itu menemukan dunia baru Amerika. Signifikansi Amerika ketika itu adalah karena benua itu memiliki kekayaan. Eropa menjadi kaya raya, membangun armada yang besar, membangun dengan pesat yang menjadikan ia di posisi sentral. Sentralitas itu menuntut penyederhanaan, manajemen yang ringkas yang pada intinya adalah modernisasi. Renaissans lantas teraplikasi menjadi pengetahuan praktis sebagai konsekuensi dari pengelolaan sentralitas ini. Islam sendiri yang juga mewarisi renaisans tidak mendapat momentum untuk menglobal, ia « berhenti » dalam tataran regional.

Tapi repotnya banyak tulisan pula yang mendudukkan modernitas sebagai lawan dari Islam. Kalau kita melihat secara jernih, modernisasi adalah satu proses, diantara banyak definisi, embedding, satu proses melepas nilai yang ada pada sesuatu dan tidak lagi harus selalu dilekatkan dengan konteks sosiologis, kultural atau situasional masyarakat. Satu contoh adalah uang. Kehadiran uang adalah satu proses modernsisasi untuk menggantikan barter yang memerlukan kesamaan platform sosiologis, kultural dan situasional. Sebuah barang x akan dikatakan dapat dibarter dengan y hanya ketika x dan y berada dalam platform pemaknaan yang sama atau mampu berdialog. Ketika kita menggunakan uang, maka nilai « buatan » yang terkandung dalam uang itulah yang berlaku. Kita lantas menyandarkan bukan pada kesepakatan-kesepakatan individual tetapi pada yang universal yaitu kepercayaan, pada trust ketika kita menggunakan uang itu. Dialog antar platform kultural, sosiologis, sosiologi individual tidak lagi diperlukan karena telah tergantikan oleh trust ini. Ini adalah proses modernisasi. Contoh berikutnya adalah expert system. Ketika sebuah proses produksi misalnya diserahkan kepada ahlinya disitu ada kesadaran bahwa proses itu akan menjadi lebih baik dibanding kalau kita kerjakan sendiri atau dikerjakan oleh orang lain yang bukan ahli. Proses penciptaan « keahlian » atau spesialisasi (pembelajaran untuk satu bidang tertentu), menciptakan pemisahan-pemisalah dunia kerja. Keahlian muncul ketika pemisahan ini diterima sebagai sebuah bentuk hubungan sosial yang menghasilkan « hal yang lebih baik ». Bentuk penyerahan pada suatu sistem keahlian ini merupakan bentuk dan proses modernisasi pula.

Dalam konteks ini, Islam sama sekali tidak anti terhadap dua proses seperti itu. Justru Islam menghadirkan proses itu dikalangan masyarakat Qurais. Satu contoh adalah klaim Islam yang menyamakan kedudukan anak laki-laki dengan perempuan. Ini adalah proses modernisasi karena klaim itu melepas mitos yang ada di perempuan sebagai pembawa sial, malu, ketersia-siaan, merendahkan status sosial dll. Penyadaran akan entitas kemanusiaan, bayi sebagai seorang manusia dan bukan « komoditas sosial », adalah perkara modernitas. Dalam konteks lain, Rasulullah sendiri mengatakan « serahkan segala sesuatunya itu kepada ahlinya » ini jelas-jelas merupakan sebuah proses modernisasi. Jadi sama sekali tidak benar kalau modernisasi dikatakan lawan dari Islam.

Kita harus bisa membedakan antara mode, gaya, gaya hidup (lifestyle) dengan modernisasi. Gaya hidup dengan modernisasi itu bisa sama tapi bisa juga berbeda. Orang memakai bikini itu bukan modernitas tapi gaya hidup yang “merayakan” panas matahari. Tapi kalau orang memakai baju dingin atau tipis karena kondisi musim itu modernitas. Akan tetapi seberapa tebal dan seberapa tipis itu gaya hidup. Ketika orang memakai baju sangat tipis, proses itu lantas berubah menjadi gaya atau gaya hidup belaka karena justru dengan keadaan yang terlalu tipis itu fungsi yang tadinya melekat justru hilang. Itu sudah “makna tambahan” yang dalam banyak hal bersifat lokal, individual, dan pilihan-pilihan, bukan lagi modernitas. Banyak contoh kasus yang seperti ini.

Islam dalam banyak kasus bisa dioposisikan dengan gaya hidup ini. Islam tidak menghendaki kita terseret dalam gaya hidup yang tidak berguna, berlebih-lebihan, bermegah-megahan. Tipis ya tipis, tapi jangan terlalu tipis, karena itu lantas menyalahi fungsi dan esensinya. Dalam banyak sekali hal, yang ditentang oleh Islam melalui ritual-ritual dan amar makruf adalah gaya hidup itu, bermegah-megahan, mabuk, kerakusan dan masih banyak lagi. Memang dalam banyak kasus gaya hidup Islam tidak cocok dengan model barat. Namun gaya hidup yang negatif tidak hanya muncul di Barat, ia ada dimana-mana. Di semua kultur banyak hal yang negatif, atau paling tidak ia tidak sesuai dengan Islam karena dalam pengertian yang sempit, Islam adalah gaya hidup juga. Bahkan di masyarakat Islam sendiripun saya yakin masih banyak yang perlu dibenahi untuk urusan ini. Dengan demikian yang perlu kita fahami adalah bahwa kita harus mampu mengambil pelajaran dari modernitas, tetapi kita juga harus mampu menjaga gaya hidup kita sendiri, menapis mana gaya hidup yang universal dan sesuai, mana yang sekedar “model” dari seseorang ataupun dari suatu kultur.

Di sinilah pentingnya “dialog” antar kultur, antar gaya hidup. Sebagai sebuah gaya hidup kita harus faham bahwa Islam adalah bersifat lokal, tetapi ada bagian dari Islam yang bersifat modern dan universal. Pola ini juga kita jumpai di Barat. Kita bisa mempromosikan yang modern dan universal itu untuk mewarnai yang global (Leben ohne Betrunken, no sex before marriage, misalnya adalah gaya hidup Islami yang saya pikir universal).

Universalitas, Globalisasi dan Islam

Kita kembali ke hubungan Islam dengan barat. Selain dari aspek historisitas, dan substantif (terutama berkait dengan modernitas dan gaya hidup tadi) berikutnya adalah aspek univesalitas dan globalisasi. Kita harus dengan jeli membedakan antara universalitas dengan globalisasi. Universalitas adalah berkaitan dengan nilai seperti kemerdekaan, demokrasi, keadilan, kultur, hak-hak asasi kemanusiaan, moral dan lain-lain. Nilai universal ini tentu saja ada dalam Islam bahkan menjadi pilar-pilar utama ajarannya. Kita orang yang merdeka dan hanya menyerah kepada Allah. Islam menghadirkan hak asasi yang esensial bahwa semua manusia dilahirkan dalam keadaan suci menghapus klaim- klaim adanya ras super. Kultur juga universal artinya kita dan mereka mempunyai kultur yang berbeda-beda, mempunyai tata seni dan tradisi, tata hubungan sosial yang mengatur secara “internal” yang berhak hidup. Keadilan memberi jalan pada altruism (sikap menolong orang lain) adalah sikap yang universal yang juga menjadi inti ajaran Islam.

Ini semua harus dibedakan dengan globalisasi. Fenomena ini adalah urusan teknologi, informasi, turis, pasar, dan kekuasan. Ketika Amerika mendeklarasikan perang terhadap teroris, ini masih dalam taraf universal. Dan Islam sama sekali tidak anti dengan ini karena terorisme dalam Islam pun dilarang. Tapi ketika Amerika menggunakan seluruh kekuatan, kekuasaan, kekuatan pasar dan informasi untuk menciptakan dan menjustifikasi siapa yang menjadi teroris – yang artinya secara subjektif - maka yang terjadi adalah proses penggunaan globalisasi untuk menjustifikasi pemaknaan sepihah terhadap terorisme. Ini bukan universal, ini pula yang seharusnya kita kritisi (sebagaimana sebagain orang barat lainnya – baca Jerman Perancis dan Rusia – juga mengkritisinya). Yang kita hadapi bukan kata-kata Bush yang ingin melawan terorism tetapi pada caranya yang memperalat nilai universal itu dengan teknologi dan kekuasaan yang mereka punyai. Mereka memanipulasi nilai universalitas menjadi sekedar bahan untuk melangsungkan dominasi global mereka. Jadi yang kita lawan adalah proses manipulasi nilai universal itu dan bukan nilai universal itu sendiri.

Emansipasi perempuan adalah nilai yang universal. Islam menghendaki adanya emansipasi dalam tata sosial dan kehidupan. Tapi dalam konteks gaya hidup, menyebarkan gaya hidup single parents secara global misalnya, bukan lagi perkara universalisme tetapi adalah perkara memaksakan satu gaya hidup satu ke gaya hidup yang lain dengan perantaraan alat-alat yang sifatnya global tadi. Namun demikian walaupun Islam mempunyai kultur, pengertian, pemahaman sendiri terhadap emansipasi itu namun sangat mungkin masih perlu banyak koreksi. Harem misalnya adalah sebuah gaya hidup yang dulunya lokal tetapi telah menjadi semacam nilai yang global dalam Islam (klasik) (dan seakan-akan menjadi nilai universal), terpelihara dalam praktek sosial dalam masyarakat dan terpelihara melalui wacana yang memposisikan perempuan hanya di sektor domestik (sampai saat ini). Hukum-hukum yang menginterrpretasi emansipasi perempuan seperti dalam masyarakat Taliban misalnya, harus kita pertanyakan apakah memang menjadi emanspasi ala Islam atau sekedar interpretasi kultural. Kita perlu mempertanyakan, menggali, menganalisis emansipasi ala Islam itu dan bukan malah meninggalkan emansipasi. Kita juga harus meninterogasi apakah praktek yang terjadi di Islam saat ini menyalahi emansipasi yang menjadi pesan universal itu. Jadi kita jangan mencampuradukkan antara emansipasi dengan desire (keinginan-keinginan) untuk mengglobalkan sebuah gaya hidup yang muncul dari Barat ataupun yang ada di Islam. Jangan serta merta pula kita mengabaikan nilai universal dari emansipasi.

Kita tentu saja akan mengjlaim bahwa Islam benar dan pasti benar. Tapi Islam yang mana dan yang bagaimana dulu? Ketika Islam bersentuhan dengan kultur, dengan “kita,” Islam lantas mempunyai warna. Warna ini seperti pelangi, mulai dari yang sangat terbuka sampai yang sangat “fanatik.” Kita tak bisa mengklaim sebagai yang paling benar karena dalam waktu yang bersamaan orang lain akan mengklaim hal yang sama. Yang terjadi adalah kita bertempur antar kita sendiri.

Nah ini harus secara jernih kita analisis. Jangan sampai kita menyamarakakan bahwa semua yang terjadi di Barat atau muncul di Barat itu berlawanan dengan Islam. Atau secara umum mendudukkan Islam sebagai oposisi Barat. Dalam Islam sendiripun masih banyak yang harus kita koreksi. Dan untuk mengoreksi itu kita bisa belajar dari modernitas Barat, belajar dai nilai universal yang dikembangkan di Barat dan dengan teknologi untuk “melindungi” dan menjaga nilai universal ini berlaku dalam tata sosial masyarakat. Melindungi si lemah adalah perkara universal, di Barat hal itu termanifestasikan ketika sopir memberi jalan pada penyeberang jalan. Itu adalah proses sosial yang kita harus teladani. Dalam konteks di Indonesia, Islam belum bisa memberi “jaminan” hal ini terjadi karena ia tidak pernah dibangun menjadi tata sosial praktis (dibangun disini tidak hanya masalah “kekuasaan politik” tetapi juga pengajaran dalam kehidupan sosial melalui wacana).

Kita dalam konteks universalitas ini perlu merumuskan dan kemudian mendialogkan dengan kulur lain, Barat misalnya, bahwa ada satu konsep universalitas yang sama dalam platform itu. Hanya bagaimana kita mencapai universalitas itu itu yang perlu dinegosiasikan bahwa kita punya hak untuk hidup dengan cara hidup yang seperti kita kehendaki sendiri. Kalau kita bisa membedakan secara jernih, maka bom bunuh diri di Palestina dan di jakarta baru-baru ini tak akan terjadi sebagaimana Bush memerangi Irak. Karena dua-duanya menyalahi nilai universal.

Penutup

Di titik ini kita harus bersikap bagaimana dalam konteks hubungan Islam dan Barat seperti itu? Saya menengarai paling tidak ada 3 hal.

Kita harus mampu bersikap, mampu mendeklarasikan, dan mampu membedakan mana yang modern dan universal dan mana yang sekedar urusan gaya hidup dan global. Yang modern dan universal kita kembangkan yang sekedar gaya hidup dan global kita harus kritisi dan kalau perlu, ditolak.

Dalam konteks nilai universal seperti demokrasi, keadilan, moral, hak asasi, dan lain-lain kita harus turut pula memperjuangkan bersama-sama dengan masyarakat global. Tapi cara-cara global sekarang ini dimana negara kaya memaksa negara miskin, institusi supra nasional mendikte negara kecil, gaya hidup Barat dipaksakan sebagai satu-satunya tolok ukur (maunya di universalisasi), ini adalah urusan lain yang perlu dilawan. Cara-cara ini adalah cara kolonisasi yang pernah menjadi kesalahan Barat. Nilai universal kita perjuangkan tapi bukan dengan cara kolonisasi seperti itu. Usaha ini (boleh dikata sebagai “dakwah”) bisa kita bedakan menjadi perlawanan terhadap kolonisasi dan usaha menyebarkan nilai universalitas. Perlawanan dilakukan bukan dengan kekerasan dan dogmatisme karena itu berlawanan dengan nilai universalitas. Dalam menyebarkan nilai universal itu kita jangan sampai terjebak dan mengulangi kesalahan Barat yang memakai kolonisasi. Islam mempunyai potensi untuk berbeda dengan Barat.

Di sinilah bedanya Islam dengan Barat. Islam menjadi alternatif, bukan berarti alternatif dalam gaya hidup belaka (yang bisa jadi merupakan pilihan-pilihan) tapi alternatif untuk mencapai derajat modernitas dan universalitas melalui jalan yang juga universal. Bukan sekedar mengulang kesalahan sejarah, tetapi menjadi alternatif untuk menciptakan sejarah yang berbeda.

Sebuah modernitas dan universalitas baru yang masih harus kita definisikan.

Marburg, 6 Agustus 2003 Terilhami oleh peristiwa pemboman Hotel Marriot di Jakarta (5 Agustus 2003) dan tulisan kecil “Abaikan Emansipasi, Perkuat Kualitas Diri dan Masyarakat” oleh Nurul dalam Newsletter Salam No. 2/Tahun I, 22 April 2003.

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*