Dec 29 2011

Betapa Sederhananya

Published by at 9:13 am under Window of Islam

Ketika datang seorang Badui udik

kencinglah ia di pojok masjid betapa sederhana peristiwa...

Sahabat-sahabat melengoskan wajah mereka Umar telah menghunus pedangnya Si udik telah ketakutan karenanya...

Nabi tersenyum padanya

betapa lega sang Badui papa dituangkannya segayung air pada bekasnya betapa sederhana cara ia mengatasi bencana betapa sederhana ia menghidupkan agama

Datang seorang mahasiswa

Berapi-api seakan membawa bendera perang membara Kita harus bela agama kita! Mari kita galang pasukan kita! Karena mereka telah menyerang kita...! Begitu orasinya. Begitu caranya menghidupkan agama.

Datang seorang pemimpin negara.

Dengan lantang ia pidato berlama-lama Saudara-saudara ... mari kita jaga kerukunan kita...! Mari kita tetap berpedoman Pancasila dalam bernegara...! Begitu caranya menghidupkan agama-agama.

Datang seorang ulama

Di sebuah pengajian ia berikan pengkabaran tentang agama. Jangan begitu nanti masuk neraka! Jangan lakukan itu nanti dimurkai Tuhan kita! Jangan bersama mereka, mereka musuh agama kita! Jangan seperti itu, setan kan gembira! Begitu caranya menghidupkan agama.

Datang seorang hamba,

Dihadapan saya. Dia berkata: apakah takwa itu berarti takut dan membuat ketakutan di dada? Saya gelagapan juga. Teringat peristiwa-peristiwa itu, betapa rumitnya. Si mahasiswa takut akan ancaman agama musuhnya. Si pemimpin takut akan terjadinya perang agama. Si ulama menakut-nakuti jamaahnya. Benar juga pikir saya Mengapa kita menghidupkan agama dengan cara canggih tapi dengan menciptakan takut sebagai budaya?

Tidak adakah yang sederhana?

Tanpa rasa takut didalamnya?

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*