Nov 20 2011

Yth, Teman-teman

Published by at 11:07 am under Reflective Discourse,Window of Islam

Dear RRs,

Posisiku pasti.

Aku saat ini tidak begitu "in"  dengan skenario yang menghadapkan dunia Islam dengan Barat. Bagiku ini sangat nggak produktif bahkan untuk Islam sendiri. Pikiranku sederhana, begitu kita menghadapkan dua dunia ini dalam konstruksi pemikiran kita, semua dadi wagu, analisinya jadi repot lantaran yang kita hadapi adalah hibridasi dari dua dunia itu sendiri (bahkan Barat sendiri adalah "anak kandung" dari tradisi keilmuan Islam kan?) Contoh paling kelihatan ya kita ini. Kita kan produk Islam+Barat. Di otak kita mengalir dua-duanya...dan nyatanya kita (di level individu) bisa "negosiasi" dengan keduanya kan (walau terengah-engah).... Paling kelihatan gampang lagi, kita juga. Kita orang Islam yang hidup di Barat..... Pikiranku simpel, pragmatis lantaran konstruksi Islam vs Barat ini bagiku hanya "angan-angan" belaka (yang secara riil memang ada di banyak pikiran baik orang Barat maupun orang Islam). Yang sekarang berusaha aku kembangkan adalah "memetakan" angan-angan itu untuk menemukan realitas baru....menemukan "way out" nya....sebuah masyarakat dengan konstruksi "baru" yang jelas bukan Islam vs Barat.

Aku agak sumir dalam melihat entitas yang diberi nama "dunia Islam".... ini opo tho? Masyarakat yang mayoritas Islam, masyarakat yang Islami, atau agama Islam? Bagiku, itu terpisah-pisah levelnya yang nggak bisa dicampur dalam analisisnya. Pun ketiganya bukan sama dan sebangun.
Bagiku kalau yang pertama itu masalah "massa", masalah multiplisitas yang menjadi "objek" bagi "dakwah" untuk "mengenalkan" Islam (bahkan di mana Islam mayoritas), sementara yang kedua adalah masalah praktek (yang menjadi modus operandi "acuan" dan "tujuan" keagamaan kita...yang kadang kita impikan ini ada di dunia the so called "Barat") sedang yang ketiga adalah masalah ketuhanan (yang lebih sering direduksi oleh umat Islam menjadi Tuhan MILIK umat Islam). Aku lagi "kepingin" menghapus diktum "dunia Islam" ini dalam pikiran geografis maupun demografisku....supaya muncul Islam yang mengatasi problem multiplisitas tadi, mengatasi problem praktisnya (ideologis), dan menjadikankan Tuhan yang universal...lantaran aku percaya bahwa Tuhan itu satu.....maka tak pantas kita mengeklaim kepemilikannya...dengan mengklaim kepemilikan ini akan "menghambat" hidayah
tentang "kesatuan" itu datang ke para penyembah bukan Tuhan.

Yang menjadi "proyek manusia" adalah memerangi ketidakadilan. Ini proyek semua orang, semua agama. Keadilan sebenarnya adalah "desire" kita, saya, sliramu, dan semua orang. Keadilan itu bukan hukum....ia akan senantiasa ada karena ia adalah desire kita tetapi juga akan senantiasa tidak ada lantaran itu adalah desire kita juga. Aku juga melihat bahwa "keadilan" dalam terminologi Islam adalah sebuah "rahasia" dan oleh karenanya ia selalu menjadi pertanyaan  "....apakah kau bisa bertindak adil? (pas nggon "pembolehan" beristri 4 itu). Lha wong adil sebagai kondisi itu hanya dipunyai oleh Allah seorang kok (dalam praktek barangkali ada di Nabi pula.....tapi apakah kita bisa menyamai Nabi?) yaitu ketika Hari Penimbangan amal-amal kita. Di dunia, KEADILAN BUKANLAH KONDISI. Yang dapat kita pahami keadilan adalah "kesempatan". Artinya menciptakan keadilan, dalam terminologiku, adalah MEMPENGARUHI keterciptakan kesempatan bagi tumbuhnya "desire keadilan" itu (artinya "keterciptaan kesempatan" itu bisa dipengaruhi.............. ke arah "Islami" atau bisa juga tidak tergantung ke kita-kita). Yang jelas selama kita memerangi ketidakadilan (yang berarti menciptakan ketidakadilan lainnya lagi) kita nggak akan bergerak maju.

One response so far

One Response to “Yth, Teman-teman”

  1. rereon 25 Nov 2011 at 4:18 pm

    saya lebih suka dengan kata "tuhan itu esa", pak..
    inti dari segala sesuatu..
    karena begitu kita merasionalisasikan (dengan jumlah bilangan) bahwa tuhan itu sekian, maka kita me-makhluk-kan tuhan.. 🙂
    ya...tentu ini selalu jadi wacana..sampai kita bertemu denganNya..

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*