Dec 29 2009

Pragmatisme Arsitektur

Published by at 10:20 am under Architectural Discourse

Kassel 31 Oktober 2002

Tulisan ini sudah saya garap 7 tahunan yang lalu, ketika masih di perkuliahan di Jerman.Tetapi menjadi long forgotten ideas yang baru ditemukan kembali setelah saya mengekskavasi file-file lama di komputer. Ketika itu saya mengikuti sebuah kuliah umum yang diselenggarakan oleh Jurusan Arsitektur Universitas Kassel. Kuliah ini menghadirkan Matthijs Bouw dari Biro One Architecture, Belanda. Tema kuliahnya adalah pragmatisme dalam arsitektur, sebuah “topik kesenangan” dari profesor pembimbing saya, Hans Frei, sebagaimana yang oleh para kritikus dari Belanda, One Architecture dimasukkan dalam “kategori” itu.

Bagi dia, mendisain arsitektur sama halnya dengan urban design atau urban planning adalah mencari “hubungan pendek” dari berbagai jalinan dan mekanisme yang ada sesuai dengan konteks yang ada. Jalinan politik dan retorikanya, jalinan ekonomi, dan jalinan teknologi akan mengarahkan arsitekturnya menjadi “sekedar” cetusan bunga api hasil dari hubungan pendek itu. Ketika ia mendisain sebuah pelebaran vila model “Perancisan” untuk seorang kaya di Belanda, ia menyodorkan sejumlah “katalog” dari arsitektur yang terkenal, mulai dari Palladian sampai, Mies dan Gehrian. Orang kaya yang hidupnya barangkali lebih banyak di lounge airport itu ternyata memilih “gaya” Mies (yang kebetulan sekali mirip dengan transparansi lounge airport dan cocok untuk pemandangan ke tamannya yang luas). Akhirnya Bouw “sekedar” mempenetrasikan bangunan baru a la Mies itu ke bangunan lama Perancisan yang (katanya) jelek itu. Pun kemudian detailing juga dilakukan dengan cara itu: katalog, cari yang paling fit dengan kondisi ruang dan jadilah. Lantas jadilah sebuah arsitektur “gado-gado” hasil comotan dari sana-sini tanpa terlalu memperdulikan “dari mana” datangya (kamar mandi dari disain model Lars Spruybroek dan pintu dorong model Koolhaas, dll). Namun yang dia lakukan adalah mengkombinasikan “proven-typology” (bahasa saya, tipologi atau bentuk atau teknologi yang memang sudah terbukti “bagus”) menjadi sebuah arsitektur yang bagus pula. Di sinilah letak pragmatisme dan sekaligus “personalisasi” dari pragmatisme itu.

Dalam hal ini dia lantas “mengesampingkan” kemungkinan adanya interpretasi lebih jauh dari arsitekturnya. Dia tidak mementingkan “signature” atau idea di belakang designnya yang nanti akan menjadi “tanda” bagi kehadiran arsiteknya. Bahkan dia menolaknya. Sangat berbeda dengan arsitek avant garde yang sangat mementingkan (walaupun sering tidak terkatakan) adanya signature ini.

Dalam kesempatan berikutnya kami terlibat dalam diskusi „Tugas Akhir“ Diplom I (sarjana) Kassel. Di situ juga ditampilkan bagaimana seorang mahasiswa “mencopoti” form yang sudah menjadi global seperti tower “Unite Habitation”, gunung piramida Louvre dan lain-lain untuk suatu projek urban desain di Berlin. Dia berhasil mengusik kita dengan “kebebasan” dia untuk melepas atribut form dari ikatan-ikatan sejarahnya dan mengeksperimentasikan dalam urban desain untuk mencari atribut-atribut baru. Pertanyaanya bukanlah “what is” tetapi menjadi “what if” …bagaimana kalau… dan ia akan selalu menjadi deretan pernyataan and…and…and tanpa menciptakan “sebuah kalimat” pun. Arsitektur menjadi katalog yang siap dijalini dengan jaringan-jaringan kehidupan. Di titik ini lantas terjadi kebimbangan antara arsitektur menjadi “sekedar bangunan” dan “arsitektur yang subversif.” Di sini letak personalisasi dari disain…sebuah pragmatisme.

29 Desember 2009

Saya sedang mengembara bersama para mahasiswa Perancangan Arsitektur 7 .. dalam sebuah penjelajahan arsitektur pragmatisme seperti ini. Hasilnya akan saya paparkan.. kapan-kapan 🙂

One response so far

One Response to “Pragmatisme Arsitektur”

  1. esaumayaon 08 Jan 2010 at 8:51 pm

    . Assalammualaikum.Wr.Wb.
    Pak sya penasaran dengan maksud dari artikel ini...
    jika mengerti tolong bantu untuk di jelaskan pak,terimakasih.
    wassalam.

    http://esaumaya.blogspot.com/2010/01/deklarasi-kota-masa-depan.html

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*