Archive for December, 2009

Dec 29 2009

Pragmatisme Arsitektur

Published by under Architectural Discourse

Kassel 31 Oktober 2002

Tulisan ini sudah saya garap 7 tahunan yang lalu, ketika masih di perkuliahan di Jerman.Tetapi menjadi long forgotten ideas yang baru ditemukan kembali setelah saya mengekskavasi file-file lama di komputer. Ketika itu saya mengikuti sebuah kuliah umum yang diselenggarakan oleh Jurusan Arsitektur Universitas Kassel. Kuliah ini menghadirkan Matthijs Bouw dari Biro One Architecture, Belanda. Tema kuliahnya adalah pragmatisme dalam arsitektur, sebuah “topik kesenangan” dari profesor pembimbing saya, Hans Frei, sebagaimana yang oleh para kritikus dari Belanda, One Architecture dimasukkan dalam “kategori” itu.

Continue Reading »

One response so far

Dec 28 2009

Hybrid University

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kesempatan untuk mengikuti International Symposium on Online Distance and Electronic Learning (ISODEL 2009) di Sheraton Yogyakarta. Tepatnya 8 - 11 Desember 2009 yang lalu. Sudah agak telat memang posting ini. Simposium ini dihadiri oleh lebih dari 500 orang dalam dan luar negeri. Sebuah hajatan dari Departemen Pendidikan Nasional yang sangat besar.

Dalam ISODEL kali ini dibahas secara luas banyak konsep yang sekarang ini menjadi state of the arts dalam dunia pembelajaran. Namun saya akan fokus pada dua trend saja.

Tren pertama adalah tentang pembelajaran yang menuju pada paradigma konstruktivis. Dalam pandangan ini siswa dapat mengkonstruksikan sendiri pengetahuan yang ingin didapatkan. Artinya, sekolah melalui kurikulum dalam batas-batas tertentu akan menjadi ajang bagi tumbuhnya kreatifitas individual di satu sisi dan standar mutu dan pengetahuan di sisi lain. Sekolah yang seperti ini berarti telah berubah lansekapnya, artinya sekolah telah menjadi lingkungan yang memungkinkan siswa mencari pengetahuan sendiri (paling tidak ada perpustakaan dan internet yang baik koneksinya) kemudian menjadi venue untuk saling belajar dari pengetahuan yang dikumpulkan oleh siswa baik dalam bentuk kelas maupun "belajar informal" di luar kelas. (Saya jadi ingat ketika kuliah dulu, sebagian besar pengetahuan justru didapat di kantin atau ketika jagongan di mushala ketika mendengar kakak kelas membahas trend arsitektur terbaru yang justru tidak dibahas di kelas). Lansekap yang berubah ini juga akan mengempiskan "mitos" bahwa guru atau dosen adalah sumber ilmu - sebuah kepercayaan yang selama ini masih melekat dan sadar atau tidak masih banyak dipraktikan oleh kita para pendidik ataupun dalam kurikulum dan penentuan kebijakan.

Trend kedua adalah penggunaan ruang digital terutama web generasi 3 (WEB.2). Saat ini siswa mana yang tidak kenal dengan facebook, twitter atau blog? Justru yang banyak belum kenal adalah guru atau dosennya, apalagi mempunyai akunnya. Facebook dan blog adalah contoh teknologi web generasi 2 yaitu social networking. Teknologi ini secara teknis memungkinkan menjadi bagian dari proses diseminasi pengetahuan dan pembelajaran. Siswa juga telah familiar dengan google dan wikipedia yang memungkinkan mereka mencari berbagai jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di kelas dan dibahas oleh dosen selama berjam-jam dalam kelas. Dengan teknologi ini kini telah terjadi masifikasi pengetahuan.

Kedua trend ini cepat atau lambat akan sangat mempengaruhi bagaimana sekolah atau universitas berperan. Yang kritis dalam dunia yang berubah ini adalah cara pandang sekolah atau universitas yang seakan-akan menjadi satu-satunya otoritas dalam pembelajaran. Implikasinya, mereka akan menentukan materi apa yang harus didapat oleh siswa secara masif. Dalam lansekap yang berubah ini maka cara pandang ini harus dikurangi. Sekolah dan universitas bukan menyeleksi materi apa yang harus diberikan akan tetapi lebih pada memberi kerangka bagaimana para siswa mampu bersikap terhadap pertanyaan dan persoalan. Yang lebih penting lagi adalah memupuk kemampuan untuk mengkonstruksi pertanyaan dari fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Artinya justru ada koneksi yang sangat erat dan langsung antara pembelajaran dengan fenomena keseharian melalui pengetahuan yang dikonstruksi sendiri oleh mahasiswa - bukan semata berdasar tabir dari sang dosen atau guru.

Beranikah sekolah dan universitas kita memulainya? Menjadi hybrid school atau hybrid university dimana otoritas dalam pembelajaran tidak lagi 'mutlak' di tangan para pengampunya?

No responses yet