Jan 11 2009

Non Place, No Space, Nopia Please

Published by at 4:36 pm under Journal

Sore ini saya duduk di sebuah bangku biru. Bangku ini salah satu saja dari deretan puluhan bentuk serupa yang memenuhi ruang tunggu Bandara Adisucipto. Stop, tak serupa. Ada yang merah dan ada pula warna kelabu berlobang-lobang. Saya duduk di dekat cantelan TV yang tanpa TV, agak di tengah, bersama orang-orang tak saya kenali. Di depan saya dua orang sedang mengobrol sambil melihat-lihat tiket AirAsia mereka, sementara saya sendiri menekan keyboard untuk menepis waktu tunggu, maklum pesawat delay hampir 2 jam. Terpaksa ruang besar berupa ruang tunggu ini menjadi kurungan sementara karena akses ke tempat lain otomatis sudah dibatasi.

Beberapa menit kemudian ada pemberitahuan keberangkatan pesawat, Garuda dan AirAsia sepertinya, tetapi seperti halnya ratusan orang yang lain, saya tidak mengacuhkan. Kedua orang di depan saya bergegas beranjak dari tempat duduk itu dan segera kemudian ada orang lain berganti duduk di depan saya. Sendirian.

Di kursi merah, tepat di bawah televisi, juga agak di tengah-tengah, tidur seorang anak dengan lelap. Ibunya menghirup teh kotak. Glek, saya juga merasa kehausan sekarang, tetapi tengok kanan dan kiri, saya hanya menemukan sebuah kios es krip nun jauh di pojokan sana. Agak malas bagi saya untuk ke sana, maklum kalau ke tempat itu berarti saya harus meringkasi notebook, membawa tas tentengan saya, dan berisiko kehilangan tempat duduk. Maklum pula, ini adalah week end, hari terakhir liburan pula.

Teman seperjalanan saya sudah dari tadi pamit untuk pindah ruang, di ruang merokok, entah di mana.

Non place, begitulah seorang antropolog dari Perancis, Marc Auge, menamai ruang-ruang seperti ini. Ruang yang bukan tempat untuk mapan, tidak ada identitas "tempat" kecuali dengan petunjuk-petunjuk yang serba "generik": agak di tengah, pojokan, dekat pintu dan lain-lain yang sama sekali tidak bisa "diingat". Dan tidak perlu diingat karena ketika panggilan pesawat sudah berkumandang, lokasi itu sama sekali tidak penting. Beda dengan kota, Tugu Jogja, Kraton, Pojok Beteng dan lain-lainnya akan selalu jadi ingatan. Penting, karena bisa jadi memori bagi kota itu. Memory of place.

Kadang non place ini bisa berubah menjadi no space. Tak ada lagi ruang. Persis seperti sore ini yang setiap jengkal kursi sudah hampir dipenuhi oleh para calon penumpang. Saya juga membayangkan penuh sesaknya Lempuyangan atau Stasiun Tugu. Tak bisa saya bayangkan tempat seperti kereta ekonomi yang pastilah untuk duduk pun akan susah. Apalagi ketika mudik Lebaran. Saya masih beruntung karena mendapatkan sebuah kursi dan dapat dengan tenang memenceti keyboard menciptakan memori untuk sebuah kursi di tengah-tengah - agak geser sedikit dekat gate 2 - ruang tunggu Bandara Adisucipto.

Jadi ingat masa lalu, ketika wira-wiri Jogja - Jakarta memakai kereta api. Ketika 'masa perjuangan' mengapeli istri yang sedang kursus Bahasa Jerman di Jakarta sembari mengurusi anak (bayi) kami yang baru saja lahir.

Glek.. jadi ingat nikmatnya nopia yang dijajakan di kereta api itu. Itu saja yang saya ingat. Memory of non place?

One response so far

One Response to “Non Place, No Space, Nopia Please”

  1. uii student?on 04 May 2009 at 3:03 pm

    masa perjuangan???
    akan lebih ´seru´ jika dibuat sebuah novel??? atau minimal dibuat satu posting khusus.
    Laskar Pelangi, Dennias, Kambing jantan dan banyak lagi tulisan-tulisan lainnya yang kurang lebih berbicara tentang masa-masa perjuangan mereka.
    bukan untuk so´-so´-an. tapi mungkin apa yang bisa diceritakan bisa menjadi motivasi untuk orang lain.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*