Nov 30 2008

Workshop Technopreneurship

Published by at 4:45 pm under Journal

Karena ditugaskan oleh Rektor, saya berkesempatan mengikuti Workshop Technopreneurship yang diselenggarakan oleh Dikti tanggal 29-30 November ini. Workshop ini memunculkan gairah yang sangat tinggi dalam menyadarkan peran sebuah universitas di era global ini.

Data-data menunjukkan 83% sarjana menjadi buruh/karyawan sementara hanya 16,4% menjadi pekerja mandiri. Bandingkan dengan lulusan SMA/SMK yang justru lebih mandiri. Statistik dunia memang hanya 5% yang menjadi job creator. Akan tetapi, dalam ekonomi yang berubah ini maka universitas harus mampu mengisi 5% itu ketimbang membiarkan universitas tanpa peran berarti.  Artinya universitas harus mampu menjadi "jalan" untuk merancang hidup dari pada sebuah "kecelakaan" atau "keturunan dan bawaan" yang mengantarkan mahasiswa menjadi sukses.
Technopreneurship lah yang harus diberikan kepada mahasiswa di samping pengetahuan "standar" untuk menjadi seorang sarjana. Technopreneurship sebenarnya adalah entrepreneurship namun mempunyai bobot dan fokus pada teknologi. Ini bermula dari pergeseran ekonomi dari old industrial economy menjadi ekonomi yang lebih berbasis enterpreneur - services.

Dalam technopreneurship ini ada beberapa hal yang sangat penting.

1. Technopreneurship memerlukan kolaborasi interdisipliner untuk menciptakan kemitraan.
2. Ia memerlukan kelembagaan dan kebijakan yang mendukung dan berkesinambungan
3. Membutuhkan pembiayaan, mekanisme dan skim yang tepat agar tepat sasaran dan akuntabilitas yang tinggi.
4. Adanya skema pembinaan yang berkelanjutan baik berupa mentoring, monitoring dan evaluasi yang berkesinambungan.
5. Harus mempunyai dampak ke mahasiswa yaitu menjadi entrepreneur baru.

Dengan "mendengar" pengalaman-pengalaman teman-teman dalam diskusi kelompok, saya mengidentifikasi adanya beberapa model yang bisa diadopsi dalam mengembangkan technopreneurship itu di universitas. Model itu saya namakan "The Five Star of Technopreneurship Model Implementation through Co-Curicula"

Model "Inkubasi"
Model ini menitikberatkan pada pentingnya kontinuitas dalam menjamin afeksi mahasiswa agar berjiwa dan mempunyai pengalaman entrepreneur. Ini dilakukan di beberapa universitas seperti IPB, UNS dll melalui Lembaga Pusat Pengembangan Kewirausahaan.
Tahap implementasi:
1. Perubahan mindset saja tidak cukup. Akan tetapi sangat perlu paling tidak dalam bentuk kuliah kewirausahaan.
2. Mentoring sebagai jaminan untuk kontinuitas.
3. Pengalaman melalui pemagaman.
4. Seleksi untuk menjadi techno/entre dan di tingkat akhir dipersiapkan untuk menyiapkan bisnisnya sendiri (mengaplikasikan business plan) dan pendanaan, kalau belum begitu siap dimasukkan ke inkubasi bisnis.

Model Coop

Model ini menitikberatkan pada penciptaan kemitraan sebagai kunci pengembangan entrepreneur mahasiswa dengan menggandeng unit bisnis yang sudah ada (UKM). Kemitraan diharapkan akan memberi nilai tambah.

Tahapan (Versi UPI):
1. Sosialisasi internal dan eksternal
2. Seleksi ke mahasiswa dan UKM. Seleksi ke mahasiswa meliputi softskill dan akademik. Seleksi UKM juga dilakukan. Hasil dari evaluasi ini adalah pemetaan kebutuhan.
3. Memitrakan
4. Mengembangkan unit bisnis peserta coop
5. Monitoring dan Evaluation Terpadu, mentoring yang mengkaitkan institusi, dinas dan dikti.
6. Seminar Pasca Coop. Mahasiswa diminta membuat presentasi hasil coop.

Model Workshop / Showroom

Model ini menitikberatkan pada kemampuan internal dan menciptakan mekanisme agar produk internal tersebut dapat diterima oleh pasar atau masyarakat. Contoh adalah "Workshop Techno" / "Showroom Techno" yang dilakukan oleh Undip dengan PT DipoTechno, iCell, Lembaga Bantuan Arsitektur, Rumah Produksi Indonesia.

Tahapan:
1. Seleksi karya mahasiswa dan dosen.
2. Pembuatan produk, muster, contoh.
3. Buat showroom agar dapat dilihat oleh market.
4. Legal formal dan marketing melalui perseroan terbatas atau badan hukum lain.

Model Community - Creative Event

Model ini menitikberatkan pada penciptaan komunitas entrepreneur. Event berupa pameran, seminar dll diciptakan untuk mendatangkan masyarakat atau pasar agar produk komunitas tersebut dapat ditangkap. Contoh yang mengembangkan cara ini adalah UKSW: Event TechnoDay atau Ubinus.
Tahapan:
1. Bentuk komunitas, misalnya IT
2. Pendampingan untuk menciptakan bisnis berbasis IT
3. TechnoDay: mengeksplorasi karya dan "seleksi" mana yang bisa ditawarkan kepada internal maupun eksternal.

Model Action Business

Model ini menitikberatkan pada pengalaman "terjun langsung" membentuk unit bisnis. Yang terpenting adalah menciptakan situasi agar mahasiswa langsung membuat "start up business" Contoh: Model "Action Business Learning" dari Poltek Pontianak.

Tahapan:
1. Studi kasus: mahasiswa datang ke pengusaha untuk belajar.
2. Mahasiswa buka usaha dan dimentoring oleh lembaga Mentoring Unit
3. Pembiayaan dengan kredit KUR.
4. Institusi bertugas dalam business advisor, marketing, akses financing, link dan network.
5. Buat Entrepreneur award berupa pendanaan.
6. Bentuk Entrepeneur Club untuk mendorong sharing mahasiswa, menginisiasi kolaborasi antar mahasiswa).

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*