Nov 13 2008

Energi!

Published by at 11:51 am under Journal

Saya kebetulan mendapat kesempatan untuk hadir dalam sebuah seminar yang bertajuk Pengembangan Infrastruktur Energi Nasional Sebagai Upaya Peningkatan Jaminan Pasokan Energi dalam Rangka Membangun Kemandirian Nasional (seri ketiga) di Hotel Sheraton Jogjakarta 13 November 2008 ini.

(kebetulan pas seminar energi ini listrik PLN byar pet juga... dan genset sempat hidup mati di awalnya, pas ada direktur PLN DIY Jateng pula, pejabat tinggi dari Kemeterian ESDM)

Seminar ini tampaknya adalah sebuah usaha untuk mencari masukan bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) keenergian tahap ke-2. Kebetulan, salah satu pembicarannya yaitu Rachmawan Budiarto (cand. Dr.) adalah teman lama yang mungkin masih ingat saya dan kemudian melayangkan undangan itu.

Untuk perencanaan jangka menengah seperti itu ternyata diperlukan tahap-tahap yang panjang. Pertama nanti ada "perencanaan politis" yang merupakan misi dan visi Presiden (dalam hal ini tentu presiden terpilih periode 2009-2014 nanti). Kemudian ada "perencaan teknokratis" yang dilakukan oleh Bappenas dan departemen terkait. Kedua venue perencanaan itu didahului oleh perencanaan partisipatif yang menghimpun masukan dari akademisi dan masyarakat secara umum, termasuk pula jajaran birokrasi di level bawah. Nah seminar ini ternyata adalah salah satu venue untuk mendengar pendapat "dari bawah" yang partisipatif itu.

Ternyata dalam seminar ini ada beberapa yang saya kenal. Pak Dr. Ing. Widodo (Jurusan Lingkungan UII), Pak Dr. Ing. Agus Maryono, Ki Jogo Kali dari UGM.

Ada sedikit hal yang barangkali agak "menakutkan" bagi saya. Kebetulan saya duduk dalam round table itu bersama beberapa orang birokrat dari Jakarta yang ketika mendengar paparan dari Ibu Tri Mumpuni yang menggebu-gebu menyampaikan fakta-fakta pengembangan energi berbasis pemberdayaan masyarakat desa, menyahut dengan "... oh itu dari LSM". Ungkapan ini saya dengar seperti "membuat jarak" antara dia dengan paparan yang disampaikan itu. Dalam benak saya, barangkali memang paparan yang "benar secara akademik" (dan sudah dibuktikan oleh beliau melalui LSMnya) itu dianggap "tidak visibel" bagi kerangka pemikiran mereka. Teman duduk saya yang lain, yang dari Bappeda Kabupaten utusan entah dari mana, menyahut dengan ".. solar dari mana?" ketika saya ngobrol dengannya perihal solar cell.

Agaknya, masih ada "beda bahasa" yang sangat jauh antara kita para akademisi dengan "mereka" para birokrat...

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*