Aug 07 2008

Seni Kota Seni

Published by at 11:53 pm under Architectural Discourse,Urbanism

Ada banyak interpretasi ketika kita menyandingkan kata kota dengan seni. Interpretasi pertama, dan yang biasanya muncul dalam wacana, adalah kota yang indah, kota yang dipenuhi oleh artefak-artefak seni berupa gedung yang tua dan indah, air mancur, kota yang rapi dan bersih. Intinya, kota lantas bisa dibayangkan seperti sebuah kanvas dimana pemandangannya akan senantiasa picturesque atau fotogenik untuk konsumsi kartu pos. Namun keindahan visual saja tidak cukup. Kota harus juga dilengkapi dengan keindahan taktil (tactile), yaitu keindahan ragawi. Udara yang segar, suasana yang teduh, jalan-jalan yang mudah ditelusuri oleh siapa saja (termasuk masyarakat diffable) adalah keindahan yang tak tampak tetapi nyata-nyata dibutuhkan oleh masyarakat kota.

Parameter

Di sini, seni diletakkan sebagai sebuah parameter untuk menghasilkan kualitas kota visual-taktil tersebut. Alun-alun dan ruang terbuka kota, jalan-jalan pedestrian, bangunan publik (perpustakaan, museum, balaikota, masjid, gereja dan klenteng, patung-patung, hingga bangku dan lampu jalan adalah urban fabric yang dapat didekati sebagai sebuah produk seni-kota (urban art) yang menghasilkan keindahan visual. Di lain pihak penghijauan kota sebagai upaya untuk menciptakan softspace dan pengaturan mobilitas yang menekan kecepatan (slowing down) dapat dijadikan sebagai sebuah pintu masuk untuk mencapai kualitas taktilitas. Di sanalah parameter keindahan visual dan taktilitas dapat dipakai untuk mengukur program-program dalam skala urban design. (Dalam pengertian ini muncul pertanyaan: apakah Yogyakarta telah dapat dikatakan “indah” secara visual dan taktilitas?)

Namun demikian, parameter tersebut tidak cukup untuk menciptakan kota-seni dalam konteks sebagai sebuah identitas sosial yang kolektif. Kita butuh interpretasi kedua yaitu melihat pada art event di kota itu. Dalam pandangan ini maka kota dipandang sebagai sebuah panggung kesenian yang menampilkan para seniman entah dari kota yang bersangkutan atau undangan. Kota-seni, dengan demikian, identik dengan seberapa sering ia menjadi panggung bagi para seniman, seberapa banyak ia punya teater dan galeri seni, seberapa banyak kota itu punya calon seniman yang magang di padepokan-padepokan. Kota-seni dalam konteks ini sangat terkait dengan perkembangan seni-kota (urban-art) yang tumbuh di masyarakatnya. Mulai dari grafiti, pengamen jalanan hingga penampilan ala Peterpan adalah event yang perlu dipupuk oleh komunitas kota. Seni-kota harus tumbuh dan ditumbuhkan secara partisipatif karena tidak semua seniman dapat tiba-tiba berubah menjadi terkenal dan punya modal. Kota dengan sendirinya harus mampu menjadi panggung yang kondusif dengan menyediakan wadah berupa ruang kota yang terbuka dan aksesibel untuk semua. Dalam definisi ini maka kita dapat membangun parameter yang sesuai untuk mendorong terciptanya kota-seni yang disesuaikan dengan “skala” yang akan diarah (misalnya Venesia dengan Venice Biennale, Kassel dengan Documenta, yang semuanya berskala internasional). Atau ia dapat pula mendorong “keunggulan” di bidang dan tema seni tertentu (Paris dan Milan dengan mode, Amsterdam dengan seni lukis, New York dengan teater Broadwaynya, Los Angeles dengan Holywood, Mumbai dengan Mollywood). (Dengan pengertian ini muncul pertanyaan pula: Yogyakarta akan “dibawa” ke mana?)

Representasi Konflik

Namun terdapat pula interpretasi ketiga yaitu ketika menempatkan seni sebagai sebuah alat untuk merepresentasikan problem dan konflik dalam masyarakat. Seni dalam konteks ini menjadi sebuah mekanisme partisipatif warga setempat untuk mengkritisi apa-apa yang terjadi di kotanya. Di sini penulis lebih mengelaborasikannya dengan contoh-contoh. Wang Jingsong memotret ribuan bentuk pagar yang mengiris-iris kota Beijing. Ia merekam pagar kuna seperti pagar perimeter Kota Terlarang dan Alun-alun Tiananmen yang saking besarnya menjadikan orang tidak sadar bahwa ia adalah sebuah entitas tertutup. Pun pagar-pagar moderen yang diciptakan oleh jalan dan jalan tol, enklav yang diciptakan oleh hotel dan perkantoran dipotretnya, pagar ruang insular yang berupa export processing zone dan lain-lain. Dengan potret itu dia ingin menyadarkan masyarakat, China khususnya, bahwa semakin kita membangun maka semakin banyak kita menciptakan pagar-pagar yang mempersempit ruang gerak. Demikian pula dengan Weng Fen yang menampilkan keluguan seorang perempuan ketika melihat skyline kota Guangzhou. Ia seakan ingin mengingatkan kita bahwa keindahan kota di China diperoleh dengan menciptakan pagar fisik dan juga administratif yang terkadang menganiaya masyarakat karena otoritariannya.

Lain lagi yang diungkap oleh Eyal Weizman, seorang arsitek dari Israel. Karyanya bersama dengan Rafi Segal yang berjudul A Civilian Occupation mengungkap dengan sinis kebijakan perencanaan pemukiman pemerintah Israel. Mereka mengungkap bahwa pemukiman Israel hampir selalu dibangun di atas perbukitan dan dihubungkan dengan berbagai mode lalu lintas, entah berupa jalan yang dilindungi dengan pagar, jembatan layang ataupun terowongan. Hasil akhir dari pembangunan tersebut adalah sebuah jaringan interkoneksi yang menghubungkan pemukiman Yahudi yang satu dengan yang lain. Namun di satu sisi yang lain, jalan-jalan ini juga di saat yang sama mengiris-iris perkampungan Palestina dan menjadikannya disintegrasi antara satu dengan yang lain. Di puncak-puncak bukit itu pemukiman Yahudi dirancang dengan model-model garden city yang kontras dengan pemukiman Palestina yang “cenang perenang” lantaran secara organik tumbuh berkembang. Pemukiman yang berada di ketinggian juga lantas menciptakan mekanisme proteksi dan sekaligus agitasi terhadap pemukiman Palestina yang mendominasi lembah-lembah. Karya tersebut, sebuah “pendudukan sipil,” mengungkap secara telanjang bagaimana sebuah “pembangunan pemukiman dan jaringan infrastruktur” menciptakan disintegrasi terhadap yang lainnya. Implikasi dari itu, karya mereka juga mengungkap ketidakmungkinan adanya separasi spasial antara kaum Yahudi dan Palestina. Namun karya yang direncanakan sebagai wakil Ikatan Arsitek Israel untuk Kongres Arsitek Dunia UIA di Berlin 2002, dengan alasan yang tidak diketahui, dibatalkan keikutsertaanya oleh ikatan itu.

Masih banyak lagi yang dapat digali dari seni sebagai sebuah kritik sosial. Ars Electronica misalnya, menghimpun seniman dari seluruh dunia untuk mengkritisi dunia digital dengan mengeksplisitkan digital divided namun di sisi lain ketidakmungkinan kita untuk lepas dari keuntungan yang diperoleh dari dunia baru ini. Hou Hanru menggelindingkan “Cities on the Move” sebuah pameran yang berkeliling ke kota-kota seluruh dunia yang mengkritisi perkembangan kota. Dan masih banyak lagi.

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*

This site employs the Wavatars plugin by Shamus Young.