Aug 23 2008

Memerdekakan Perancangan: Sebuah Refleksi

Published by at 5:50 pm under Architectural Discourse

Arsitektur di sekolah arsitektur ketika dihadapkan dengan ungkapan "perancangan" sering diinterpretasi dalam konteks estetika formal belaka. Artinya, pergulatan perancangan yang dirangsangkan ke mahasiswa masih dalam kerangka formal baik itu untuk keperluan identitas (membedakan yang lokal dengan yang global misalnya) atau untuk alasan estetika memberi “suasana” atau “tema” lokal pada fungsi tertentu yang masih berkaitan dengan kelokalan itu (membuat suasana Jawa untuk museum tradisi Jawa misalnya), ataupun signature dari sang perancang itu sendiri. Silabi-silabi mata kuliah Perancangan Arsitektur  di Kampus kita tercinta adalah contoh konkrit dari cara pandang tersebut. Dari sini, secara umum kita dapat menggeneralisasi paradigma ini sebagai pengajaran arsitektur sebagai architecture of spectacle, arsitektur sebagai display yang cenderung didominasi oleh komodifikasi arsitektur.

Cara pandang ini tentu saja tidak salah namun dalam konteks pragmatisnya sering tidak relevan lagi atau secara politis bisa dikatakan tidak cukup mempengaruhi pola berpikir dan tradisi atau tingkah laku di masyarakat. Problematika masyarakat luas kini bergeser cenderung lebih pragmatis. Perumahan misalnya adalah problem laten yang kini mulai menjadi sentral debat lagi setelah cukup lama disingkiri dari debat teori arsitektur. Bahkan Harvard Design Magazine di edisi terakhir ini membawa isu hunian informal sebagai tajuk utamanya.

Oleh karena itu pendekatan yang melihat “architecture follows people”  perlu dikembangkan. Pembelajaran “tradisional Indonesia” misalnya lantas bisa dimaknai lain. Ia tidak dimaknai dalam konteks regional-historiografis (“Arsitektur Jawa” ataupun Arsitektur Tradisional lainnya a la Taman Mini yang hanya sekedar formalistik) namun lebih dilihat sebagai tradisi membangun masyarakat Indonesia, terutama dalam membangun rumahnya sendiri secara informal. Studi yang dilakukan adalah melihat pada “perjalanan membangun” melalui bahasa arsitektur vernakular ketimbang “high architecture” dari sebuah tradisi.

Melalui tulisan kecil ini saya mengajak para dosen dan mahasiswa untuk mampu membuat  jawaban bagi bagi problem praktis yang dihadapi oleh masyarakat dengan inovasi disain yang bukan sekedar klise metaforikal formal. Mahasiswa harus memahami secara langsung persoalan pragmatis masyarakat kampung kota yang berhadapan dengan masalah kepadatan, kekurangan rumah dan infrastruktur di satu sisi namun menjadi ‘hinterland’ bagi etalase bisnis padat modal di sisi lain. Gap inilah yang dieksplorasi bagi solusi-solusi tebakan arsitektural yang terfalsifikasi (conjecture dalam nuansa Karl Popper). Melalui metode partisipatif yang langsung melibatkan mahasiswa dengan aktor (masyarakat) kampung kota, mahasiswa harus berani memberi tebakan-tebakan cerdas dan mengevaluasinya secara sangat intensif bersama dengan masyarakat (conjecture-evaluation process). Mahasiswa di saat yang bersamaan harus memperluas horison pemahaman, kosa figurative concept, dan kedalaman kajiannya. Diharapkan dari pengalaman partisipatif dengan masyarakat di satu sisi dan pendalaman teoritis di sisi lain dapat mempertinggi sensitifitas (kemampuan analisis/evaluasi dan reflective awareness) dan sekaligus merangsang kemampuan perancangan (mengembangkan dugaan - membangun konsep - mengembangkan sikap - menentukan rancangan.

Menjadikan perancangan 'merdeka' dan memerdekakan. (Semoga)

6 responses so far

6 Responses to “Memerdekakan Perancangan: Sebuah Refleksi”

  1. dhaditon 09 Sep 2008 at 10:10 am

    "arsitektur" yang ada di benak saya masih sepenuhnya adalah seni keindahan belaka....masih terlalu sulit mengemukakan ide-ide perancangan struktural..yang ada cuma idealisme yang merugikan...

    semoga dengan "kedewasaan" pola pikir saya sebagai perancang, saya dapat mencapai, minimal "puncak awal" dari perjalanan arsitektur.. 🙂

    feel the emotions of its own architecture..

  2. syaifudinon 10 Oct 2008 at 9:26 pm

    arsitektur adalah persepsi dari sang manusia yang mana persepsi itu terbangun sejak manusia lahir ke bumi, melalui kumpulan pengalaman melalui panca indera sampai saat ini dan nanti. Merasa nyaman jika ruang untuknya (dimensi-ragawi) terpenuhi.
    Merasa nyaman jika ruang untuknya (visual) terpenuhi
    Merasa nyaman jika ruang untuknya (fungsi) terwadahi
    Merasa nyaman jika ruang untuknya (akustik) terakomodasi, dll
    sampai ukuran-ukuran yang di inginkan terpenuhi.

  3. Noor Idhamon 18 Nov 2008 at 8:38 pm

    Aku terpaku pada istilah "Arsitektur follow the people", ya..vernacular...!
    Kang,..kalau punya sesuatu yang berkaitan dengan ini mbok saya ditulung...apapun bentuknya...saya lagi siapkan rencana thesis berkaitan dengan bagaimana arsitektur vernacular pasca gempa jogja 2006. Masih sangat lebar, saya sedang berusaha menyempitkan, pada area mana ya saya berada.....masih agak susah menentukannya...banyak pertimbangan sih...akhir semester ini (fall 2008) targetnya kelar...
    any idea or suggestion?
    Salam....

  4. maharikaon 18 Nov 2008 at 9:59 pm

    Problem bagi arsitek yang tampaknya melekat adalah mengasumsikan arsitektur vernakular taken for granted sebagai objek yang "berhenti". Dengan asumsi ini lantas tidak muncul inovasi karena menganggap arsitektur itu sudah paripurna. Saya lebih melihat arsitektur vernakular justru pada kemampuannya untuk melakukan evolusi. Tugas kita para arsitek adalah untuk meneruskan tradisi evolutif ini dengan pendekatan-pendekatan yang lebih "akademik" di satu sisi terhadap arsitektur yang mengikuti "flow of people's mind" ini.
    Kalau bisa ada survei yang lebih panoramik bagaimana introduksi "earthquake resistant" (yang akademik) dan pengaruhnya terhadap evolusi tradisi vernakular pada masyarakat ... it would be great. Misalnya Jogja, Bengkulu, Aceh.... Turki....

  5. erwinon 30 Nov 2008 at 8:10 pm

    menurutku saat ini arsitek dalam dunia masyarakat masih sebuah tanda tanya, dimana keberadaan arsitek sering dianggap sebagai "tukang gambar bangunan".... khususnya negara2 seperti Indonesia.... contohnya saat mendesain kita melakukakan analisa-analisa terkait namun bagi masyarakat hal ini cukup aneh mereka hanya ingin memiliki sesuatu bangunan yang megah, beda dan terkini sesuai trend, mereka tidak peduli akan cultur dan kondisi laiinya... dan hanya sebagai berpikir rumah sebgi tempat tinggal...yang sangat sayang sekali dapat dikatakan tidak sesuai.....

    disini pertanyaannya adalah ketika masyarakat menginkan bangunan mereka telah menentukan gambaran bangunan dibandingkan arsitek... so arsitek hanya sebagai "tukang gambar"!!!!! apa benar begitu kondisi di Indonesia

  6. emanon 12 Jul 2009 at 4:43 am

    Keinginan didalam perancangan arsitektur yang ada dalam pikiran si perancang dan juga pikiran pemilik bisa saja sering bertolak belakang......, sehingga diperlukan interelasi yang merumuskan tujuan dari arsitektur yang selanjutnya dirumuskan menjadi program.
    Fungsi dari arsitektur menandai bagaiman ruang itu dibentuk dengan material dan konfigurasi sehingga user (pengguna) dapat dengan mudah melakukan aktifitasnya sesuai dengan fungsinya.
    Lingkungan merupakan “tempat” yang menjadi pijakan bagi pembentukan atau terbentuknya arsitektur. Oleh karena itu seorang perancang haruslah menguasai kosa rupa (kontemporer dan vernakuler) yang merupakan bentuk atau ciri rumah dari setiap daerah dan perkembangan arsitekturnya serta menguasai tata bahasa (metoda dan teknik) berupa gubahan dan penaung dalam arsitektur vernakuler.....
    ..........dgan cara tersebut saya yakin.......... seorang arsitek tidak hanya menjadi seorang ........TUKANG GAMBAR ............melainkan sbgi sorang arsitek sejati.^_^

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*