Aug 09 2008

Mailing List: Ruang Demokratis?

Saya tulis 3 Maret 2004 di Marburg, Jerman.

Bak mainan baru bagi seorang anak-anak, mailing list menjadi marak sejalan dengan perkembangan dan kemudahan akses internet di hampir seluruh penjuru dunia. Di Indonesia,dan masyarakatnya di manapun berada, pun keranjingan dengan model komunikasi baru ini. Mulai dari yang sekedar mecoba-coba dan sekedar pasif mengikuti sampai secara serius menggunakannya untuk berbagai macam konsolidasi dan koordinasi. Mailing list adalah model komunikasi yang menyandarkan pada ketidaksimultanan (asinkron) interaksi antara si penulis dengan pembaca, menjadikan pesan selalu “terpenggal” olehnya namun mampu melintasi ruang dan waktu. Berbeda secara total dengan saresehan atau tongkrongan di warung tegal dimana pesan-pesan akan disinkronisasi oleh kebersamaan ruang dan waktu, namun akan buyar ketika waktu memaksa pembicara bubar atau warung tegalnya dibongkar tramtib.

Ruang Virtual
Mailing list, konon, dianggap merupakan bagian dari ruang virtual yang dibentuk oleh jaringan komputer yang menyimpan pesan-pesan itu dalam entitas “bit” yang bukan material. Ruang virtual, konon, dikatakan sebagai “ruang” tetapi bukan ruang dalam arti fisikal atau geografis. Ia dianggap mempunyai kualitas yang dapat dianggap, dipikirkan, diimajinasikan sebagai ruang, tetapi tidak bisa dirasakan kehadirannya dalam dunia material. Oleh karenanya ia dinamakan “virtual” yang secara umum berarti “seperti,” “mendekati,” “seolah-olah” seperti ruang fisik tempat kita bersenda gurau saling tonjok.

Ruang virtual itu juga dianggap seolah-olah merupakan ruang publik yang memungkinkan kita berinteraksi dengan banyak orang (sekali lagi: asinkronis) entah dengan identitas “nama beneran” ataupun yang disembunyikan dengan nama samaran. Namun demikian, baik ruang fisik maupun bit ini adalah realitas: yang fisik telah “biasa” kita lakoni sementara yang virtual, seperti “mainan baru” yang masih butuh dipahami dan dieksplorasi. Mailing list, diidamkan oleh sebagian orang sebagai ruang publik “baru” yang memungkinkan realitas-realitas baru bermunculan. Ketika kita bertemu muka, adat, tradisi, atau hierarki memaksa kita untuk, misalnya, hormat kepada tetua. Saking hormatnya, kadang menjadikan luapan emosi atau ketidaksetujuan menjadi terpendam dalam kuluman belaka. Kadang pula, lantaran ewuh dan pakewuh, suatu perkara tidak mungkin dilontarkan secara terbuka melalui komunikasi simultan ala jagongan di gardu ronda. Mailing list menjadi alternatif munculnya “alam bawah sadar,” “realitas terpendam”, dan, sedikit atau banyak, membongkar jeratan tradisi, hierarki atau ewuh pakewuh. Ia menjadi ruang publik baru yang memungkinkan kaum yang “tak terwakili,“ atau “minoritas,” atau “individu terjajah,” bersuara nyaring tanpa
harus secara frontal berhadapan muka yang kadang-kadang membuat gamang itu. Entah itu berupa suara minoritas, suara “sengak,” kritikan pedas, luapan emosional, semua adalah pesan yang pasti, sedikit atau banyak, mempunyai pijakan yang mempunyai korelasi dengan realitas “fisikal.” Adalah tugas kita semua untuk menampung kata-kata itu dan mencari ikatan kebenarannya di ruang fisik sekeliling kita.

Duplikasi Relasi Sosial?
Mailing list, adalah ruang fenomenologis yang sedikit atau banyak mampu memberi gambaran pada hal-hal yang tidak semuanya bisa dilihat dengan mata dan indera. Namun demikian, idaman ini pun kadang bisa sirna. Ketika mailing list telah “dikelola“ dengan penciptaan kriteria-kriteria. Ada pesan yang boleh dan tidak boleh di luncurkan. Ada warga yang boleh masuk dan harus dikeluarkan. Ada yang berhak menilai mana yang layak tayang mana yang bukan. Dan seterusnya. Ruang virtual ini, dengan berbagai kriteria dan peraturan, diidamkan menjadi ruang yang “mulus” tanpa hentakan, gesekan, saling senggol dan saling tubruk. Seakan-akan sebuah mailing list akan menjadi ideal ketika hal-hal itu mampu diredam dan dihilangkan. Peraturan, “moderator,“ atau siapapun yang menjadi “pengelola“ mailing list telah menjadi otoritas baru yang merenda adat dan tradisi baru bagi ruang publik virtual ini. Dan ketika otoritas baru ini demikian canggihnya tersusun, secara tidak sadar telah menciptakan
duplikasi hirarki, tradisi, adat yang menjadikan, sekali lagi, kaum tertindas, kaum minoritas, kaum pemberontak, tak lagi punya tempat berpijak. Sunyi, tak bersuara. Telah hilang satu realitas, tertindas oleh jeratan otoritas.

Mailing list, seperti mainan baru bagi anak-anak, yang masih harus dipelajari dan dieksplorasi. Saya kemudian melihat ke anak-anak. Mereka mendapat kepuasan dan pelajaran ketika si orang tua memberi “kebebasan” untuk berkreasi dengan mainan itu. Saya lantas bertanya-tanya berkaitan dengan mailing list yang seakan-akan mainan orang dewasa itu, bisakah kita mendapatkan “kepuasan” dengan mengekang-kekang kendali tidak karuan? Ataukah kita bisa dengan sendirinya menciptakan adat baru tanpa harus merasa terbelenggu? Atau memang kita suka membelenggu diri sendiri?

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*