Jul 18 2008

Ambang

Published by at 11:11 am under Reflective Discourse

Dalam melukiskan pergolakan batin antara ketidakpuasan melihat bagaimana manusia memperlakukan agama dan terlebih lagi terhadap -Tuhan dan resonansi hati ketika melakukan pembacaan teks-teks ilmiah maupun agamawi puisi-puisi ini mengalir dengan sendirinya mengiringi teks-teks ilmiah di sisi lainnya.

Saya merasa pikiran yang semakin menerobos ke relung problematika manusia, lantaran saya sedang mempelajari ilmu ruang dan bagaimana manusia memahami dan menjelajahinya, menghadirkan pemahaman baru tentang realitas adanya pemahaman keterpisahan antara yang dipahami dan dipikirkan sebagai sesuatu yang “di atas sana” dengan yang dilakukan dan terpraktekkan “di sini.” Problematika keruangan manusia ternyata tidak sebatas pada pengertian ruang dialektik yang abstrak sekaligus praktis itu tetapi menjangkau dan paralel dengan problematika manusia dalam memikirkan hal-hal yang lebih fundamental, misalnya tentang Tuhan atau yang lebih praksis tentang agama dan posisinya yang kadang terperosok atau diperosokkan dengan sengaja sebagai ideologi itu.
Kadang kala, bahkan sering, kita mendasari tindakan kita hanya dengan sepotong kebenaran yang dibungkus oleh imaji-imaji kita sendiri atau merekonstruksi kebenaran berdasarkan potongan-potongan yang disajikan oleh pihak lain. Dalam dunia yang semakin menyempit ini dan dimana kita bisa berinteraksi dengan semakin instan sayangnya kita justru tidak bisa menikmati kehadiran kebenaran hakiki. Kebenaran itu justru semakin jauh lantaran penyempitan ruang dunia itu hanya mungkin dengan mereduksinya menjadi potongan-potongan imajinasi yang bisa dipindah-pindah antar pikiran satu ke pikiran yang lain.
Teks yang dulu dianggap merupakan puncak “kemanusiaan” ternyata sangat tidak cukup untuk menunjukkan nilai kemanusiaan itu terhadap manusia yang lain. Ia menjadi terlalu mudah diplintir tetapi sekaligus terlalu sulit untuk bisa dipakai sebagai media pemindah pengertian yang memuaskan. Kebenaran dan pemahaman juga tidaklah seperti memori digital dalam komputer yang bisa dipindah tanpa kehilangan kode-kode esensial yang bermakna bagi pembacaan ulang.
Kebenaran dan pemahaman itu juga tidak seperti wahyu yang turun ke para nabi yang menggetarkan jiwa dan raga mereka. Namun berbeda dengan para nabi yang menerima wahyu dengan gemetaran dan kemudian bersimpuh, manusia sekarang merasa cukup kuat untuk mencari kebenaran, walaupun itu kebenaran wahyu sekalipun, tanpa dengan gemetar dan tersimpuh. Manusia sekarang seakan merasa cukup punya otoritas untuk tegar. Padahal salah satu esensi ketersimpuhan para nabi itu adalah cerminan perasaan ketakberdayaan menerima kebenaran. Manusia sekarang, barangkali sudah menjadi kodratnya, terlalu sombong untuk mencampakkan apalagi membunuh otoritas yang telah “dicapai“ olehnya. Padahal dengan bersimpuh para nabi menyatakan pendapat tentang keesaan, kekuatan, kebenaran dan ke-ada-an Realitas Tertinggi yang membungkam otoritas dan kedirian mereka. Namun alih-alih membungkam, manusia sekarang justru mencari otoritas itu dan terkadang malah melupakan, membungkam “Yang mempunyai otoritas hakiki.”
Agama-agama mengajarkan untuk berdoa “atas nama Tuhan” sebelum memulai suatu pekerjaan. Agama-agama ini memberitakan suatu kondisi bahwa manusia ketika akan melakukan hal yang menjadi otoritasnya sebenarnya hanyalah meminjam otoritas hakiki itu. Supaya manusia sekarang ingat bahwa ada tanggung jawab yang bersifat keilahian yang harus dimanifestasikan dalam kehidupan kemanusiaan. Menjadikan tangan kita “tangan“ Tuhan  di dunia yang menciptakan kedamaian dan keadilan, bukan peperangan, kebencian dan penghisapan. Doa adalah proses bukan mantra yang secara instan menyuruh Tuhan untuk bertindak. Ia adalah ambang antara “pikiran di atas sana” dengan realitas “di sini.” Ia adalah dawai yang menghubungkan abstraksi dan realitas, antara yang tertulis dengan yang dirasakan, antara kerygma atau pernyataan-pernyataan dan pengalaman langsung emperi. Ia akan bergetar hebat tatkala keduanya menunjukkan “berpadu“, ia adalah dogma sebuah kebenaran yang tak melulu dari pernyataan dan pengalaman fisikal melulu tetapi juga melibatkan urusan pengalaman batiniah.

Sebuah usaha pemahaman totalitas ruang juga memerlukan pergulatan jalan ketiga di antara usaha memahami secara abstrak dan usaha secara nyata wadaqi, memahami melalui ruang antara yang di ambang kenyataan dan sublimitas.

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*