Oct 30 2007

Kriminalitas dan Ruang Kota

Published by at 10:19 pm under Journal

Komunitas berpagar atau gated communities adalah salah satu tipe bentuk permukiman kota yang memakai pagar keliling untuk mendefinisikan identitas teritorialnya. Di Indonesia terutama di kota-kota besar tipe komunitas ini cenderung berkembang sangat pesat namun tanpa kontrol dan arahan yang adekuat dalam konteks perencanaan kota. Pemagaran ini dari sisi lingkungan adalah upaya defensif masyarakat untuk menciptakan defensible space untuk meminimalisir terjadinya tindak kriminal di lingkungan mereka (sebagai mekanisme deterrence). Namun dalam konteks kota, pemagaran ini merupakan bentuk privatisasi ruang yang memicu fragmentasi kota dan disintegrasi sosial. Saat ini dilema ini menjadi bahan perdebatan yang masih terus dicari faktor-faktor empirik dalam konteks lokalnya. Secara umum penelitian ini adalah sebagai upaya memahami makna yang dilematis tersebut di konteks kota di Indonesia. Penelitian mendasar ini berguna untuk mengisi ketiadaan wacana di paras teoritis tentang fenomena ini di Indonesia sehingga turut memberi kontribusi keilmuan di paras global. Diharapkan, penelitian ini dapat dikembangkan dengan kajian kebijakan (policy study) bagi kebijakan pengembangan dan perencanaan kota.

Di Indonesia pada umumnya dan di kota-kota besar pada khususnya gated communities atau komunitas berpagar cenderung berkembang sangat pesat. Survei peneliti di Yogyakarta menemukan adanya pertumbuhan perumahan yang sebagian besar dipagari sekelilingnya itu yang mencapai lebih dari 380 perumahan baru hanya dalam kisaran waktu dari tahun 2000-2005.1 Laporan Hogan dan Houson (2002) dan Leisch (2002) juga menunjukkan adanya kecenderungan pembentukan tipe permukiman ini di Jakarta dalam skala yang besar seperti Lippo Karawaci, Bumi Serpong Damai (sekarang BSD City) dan lain-lain hanya saja keduanya tidak melaporkan kuantitas pertumbuhan di skala kota.
Komunitas berpagar adalah satu tipe bentuk permukiman yang memakai pagar keliling untuk mendefinisikan identitas sosialnya, gaya hidup, dan keamanan lingkungannya (Blakely dan Snyder, 1998). Permukiman seperti ini juga memakai alat pengaman berupa portal untuk membatasi lalu-lintas, dengan satuan pengamanan (satpam), hingga alat canggih semacam CCTV (close circuit television). Terkadang pula permukiman ini mempunyai peraturan khusus atau konsensus (code of conduct) bagi warganya untuk mempertahankan eksklusivitas mereka (Blandy, 2005). Permukiman model ini dapat berupa perumahan baru yang berpagar (gated real-estate housing) ataupun perubahan dari kampung kota menjadi komunitas kampung berpagar (barricaded communities). Bentuk-bentuk pemagaran ruang kota seperti ini dianggap dianggap menjadi salah satu pemicu terjadinya fragmentasi ruang kota yang merupakan kualitas yang tidak dikehendaki dari sudut pandang pengelolaan kota (Blakely dan Snyder, 1997).
Proses pemagaran ruang yang seharusnya merupakan ruang publik kota ini secara teoritis merupakan bentuk upaya defensif masyarakat melalui penciptaan defensible space untuk meminimalisir terjadinya tindak kriminal di lingkungan mereka (sebagai mekanisme deterrence).
Dari beberapa laporan, secara umum menunjukkan bahwa kriminalitas kota (urban crime) memang berkorelasi dengan munculnya permukiman berpagar. Namun demikian, relasi ini dilaporkan di konteks kota dimana kriminalitas memang cukup tinggi seperti Johannesburg di Afrika Selatan atau kota-kota di Amerika Selatan seperti di Brazil (Landman dan Schönteich, 2002). Namun demikian, secara khusus di Indonesia, laporan akan relasi ini masih belum ditemukan.
Penelitian mendasar ini penting karena dari konteks pengelolaan ruang kota, proses fragmentasi ruang dianggap menjadi salah satu faktor penting terjadinya disintegrasi sosial yang dapat berimplikasi pada konflik yang lebih luas. Namun demikian, pada kenyataannya kita dihadapkan pada posisi dilematik perkembangan komunitas berpagar karena proses penciptaan pemagaran lingkungan permukiman adalah bagian dari upaya penciptaan defensible space yang juga merupakan proses “alamiah” untuk menciptakan keamanan dalam skala lingkungan. Di posisi ini perlu pemahaman yang lebih berbasis empirik - untuk kasus kota-kota di Indonesia - yang berguna sebagai landasan penyusunan kebijakan perencanaan kota pada umumnya. Terutama adalah karena komunitas berpagar diprediksikan akan menjadi fitur penting bagi pembentukan kota di masa mendatang (Landman, 2000). Inilah yang sekarang sedang saya pelajari.

2 responses so far

2 Responses to “Kriminalitas dan Ruang Kota”

  1. nanikon 06 Nov 2007 at 9:57 am

    saya sangat mendukung penelitian anda, dari sisi investor perumahan gate comm. sangat menguntungkan sebab penelitian seperti bible and hsieh (2001) ada perbedaan yang signifikan terhadap tipe rumah gated comm. dengan tipe rmh normatif, adanya kenaikan harga rumah yg di akibatkan gate..

  2. Meyrianaon 02 May 2008 at 9:26 am

    Saya juga mendukung research anda.
    Kebetulan, saya juga sedang membuat thesis mengenai hubungan GC dengan urban sustainability.
    Apa boleh saya dapat email anda untuk berdiskusi seputar gated communities.

    Trim's
    Rian

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*