Archive for December, 2006

Dec 18 2006

Kota Jawa

Published by under Journal

eksperimen diagramatik

Seperti laporan arkeologis, tulisan ini berusaha mengungkap petunjuk yang menggambarkan fenomena yang lebih kompleks. Namun tidak seperti arkeologi yang meneropong masa lampau, tulisan ini justru merekonstruksi masa mendatang melalui kejadian-kejadian masa kini: sebuah “arkeologi masa depan” yang disajikan dalam bentuk gambar. Bukan gambaran keadaan “saat ini”, gambar dalam tulisan ini adalah hasil sebuah eksperimen visual tentang Kota Jawa tersebut.

Urbanisasi Total
Bayangkan keadaan Jawa di tahun 2030 bila kita membangun dengan cara dan kecepatan seperti saat ini. Jakarta menjadi megalopolitan Jabodetabek-Serang-Cianjur-Sukabumi-Bandung. Jalur Pantura menjadi linear-city yang membentang 1000 kilometer dari Merak hingga Surabaya. “Jalur Selatan” Purwokerto hingga Kutoarjo dan kota-kota di Jawa Timur bagian selatan seperti Pacitan, Ponorogo, Blitar, Jember akan menjadi networked-cities, kota yang terpadu oleh jejaring transportasi. Jogja-Solo menjadi education supercorridor. Kota-kota persimpangan seperti Magelang menjadi kota besar yang menjadi titik pertemuan “kota gunung” hasil mutasi desa-desa di Sumbing, Sindoro, Merbabu dan Merapi.. Desa berubah menjadi kota kecil. Persimpangan jalan menjadi titik tumbuh kota baru dan menjadi in-between-city, atau kota antara. Intinya, Pulau Jawa mengalami urbanisasi secara total dan menjadi “Kota Jawa.”

Kota Jawa didominasi oleh karakter “desakota” yang tidak jelas bentuknya: desa bukan, kota juga bukan. Dikotomi kota-desa punah digantikan oleh dikotomi kota inti yang formal dan kota antara yang informal. Infrastrukturnya pun tidak sepenuhnya sempurna. Hanya di kota-kota inti saja yang akan benar-benar mengkota yang padat oleh bangun-bangunan dilengkapi infrastruktur yang memenuhi syarat sebagai sebuah kota. Kota antara akan tumbuh konvergen: kota yang diinisiasi oleh enklav (hunian misalnya) akan tumbuh eksklusif sementara yang diinisiasi oleh sektor informal akan berubah menjadi slum. Persawahan dalam skala besar punah. Sebagai gantinya adalah sawah mini yang banyak dibiarkan terlantar karena sistem irigasi berubah menjadi drainase atau karena menunggu investasi untuk alih fungsi. Gunung dan hutan akan menciut menyisakan beberapa daerah lindung sekedar sebagai taman kota. Infrastruktur transportasi menggurita, memfasilitasi mobilisasi penduduk. Jaringan jalan tol akan menghubungkan satu kota ke kota lain namun juga akan memotong-motong lansekap menjadi puzzle teritori yang saling asing.

Indikator Kota Jawa
Gambaran Kota Jawa di atas bukanlah rekaan belaka. Selain angka-angka proyeksi penduduk (misalnya olahan penulis dari BPS dan World Urbanization Prospects, 2001 dari PBB) ada sejumlah indikator yang mendukung proses urbanisasi total Pulau Jawa ini. (a) Proses urbanisasi multi dimensi. Selain proses urbanisasi “alami” yaitu migrasi penduduk dari desa ke kota, urbanisasi ini juga terjadi dalam bentuk perubahan masif desa menjadi kota dan urbanisasi tanpa disertai migrasi yang diinisiasi terutama oleh media. Sinetron dan filem misalnya kini telah menjadi alat perubahan masyarakat menuju komunitas kota imajiner: sebuah “urbanisasi mental.” (b) Pertumbuhan infrastruktur. Jalan raya menjadi jaringan yang menjadi urat nadi urbanisasi. “Peta mudik” yang kini menjadi gambaran transportasi periode puncak setahun sekali dapat menjadi petunjuk kondisi dan kebutuhan transportasi Kota Jawa. Mobilisasi harian manusia Kota Jawa akan setara dengan intensitas ritual tahunan itu, kalau tidak lebih besar lagi. (c) Jaringan komunikasi. Masyarakat kota ditandai dengan sarana komunikasinya sebagai manifestasi masyarakat jejaring (network society). Peta cakupan jaringan telepon seluler yang ada saat ini (misalnya dari Telkomsel yang terluas cakupannya) dapat menjadi petunjuk seberapa luas Kota Jawa nantinya secara spasial mungkin terbentuk. (d) Pertumbuhan informal kota antara. Kini fenomena ini terlihat sebagai kegiatan ekonomi yang tumbuh di sepanjang dan persimpangan jalur transportasi penting. Kota antara ini adalah hasil “penggelembungan” jalur-jalur ekonomi (thickening). Kota antara juga terbentuk oleh enklav hunian eksklusif yang tumbuh bak lompat katak (leap frog development) hasil dari politik spekulasi yang tak terkendali. Ia bukan merupakan entitas administratif seperti halnya yang dimiliki kota inti tetapi nyata-nyata secara spasial merupakan proses menjadi kota, bahkan beberapa telah mengklaimnya sebagai kota: Kota Wisata, Kota Legenda dan Kota Lippo Karawaci.

Tantangan
Kota Jawa menghadapi tantangan yang sangat kompleks. Paling tidak enam hal fundamental harus diperhatikan dengan seksama. (a) Integrasi antar daerah. Sangat paradoksal dengan semangat otonomi daerah, pengelolaan Kota Jawa justru membutuhkan konsep pengembangan integratif yang melebur batas-batas kedaerahan. Terutama untuk perencanaan infrastruktur dan pelayanan publik, perencanaan kota-kota inti dan kota antara tak lagi bisa dilakukan secara parsial dan sendiri-sendiri melainkan harus oleh institusi supra-regional, bukan semata intra-regional lagi. Di sini, teknologi informasi akan menjadi tulang punggung bagi integrasi tersebut. (b) Kompetisi antar kota. Globalisasi dan urbanisasi total di Jawa akan mengakibatkan persaingan ketat. Mantra pembangunan yang bertolak dari kompetisi secara fundamental harus dikoreksi untuk membangun kota yang lebih berwawasan lingkungan. Bila hal ini tidak terjadi maka proses pengkotaan akan menciptakan stress ekologi (ecological stress) menuju kehancuran lingkungan hidup secara total. (c) Kotadesasi. Fenomena ini mengindikasikan adanya proses pengkotaan dan pendesaan di lokasi yang sama yang menghasilkan teritori kelabu, “tidak terlihat” dari kacamata administratif. Peleburan dikotomi desa-kota menuntut adanya kebijakan politik yang berubah dalam memandang teritori Jawa bukan secara dikotomis - dua dimensional melainkan pada spektrum dan urban-lansekapnya. (d) Pertanian yang sekarat. Lahan pertanian menciut drastis didesak kebutuhan papan, industri dan infrastruktur. Kebijakan tentang pertanian akan dihadapkan pada pilihan antara menghidupkan pertanian kota (urban agriculture / agropolitan) atau melupakan sama sekali potensi pertanian di Jawa. Tentu saja pilihan terakhir ini rawan terhadap stabilitas sosial dan ekonomi. (e) Informalisasi kota. Proses ini secara inheren mendampingi urbanisasi Kota Jawa. Struktur ekonomi informal akan sangat mendominasi peta ekonominya. Untuk seterusnya ia akan mempengaruhi terbentuknya ruang-ruang informal yang menuntut perubahan paradigma secara fundamental penataan kota dari yang sifatnya top down dan imperatif menjadi self-organizing tetapi dengan fungsi pengarahan (directing) yang sangat ketat. (f) Mobilitas dan migrasi penduduk yang tinggi. Hal ini menuntut perilaku penyediaan infrastruktur, penyediaan perumahan dan layanan publik yang akomodatif terhadap mobilitas itu. Tanpa kemampuan adaptif itu maka akan muncul kaum migran yang menjadi populasi mengambang (floating population) yang rawan terhadap eksploitasi, kesenjangan sosial dan konflik antar kelompok sosial.

Penutup
Perubahan menuju kota adalah keniscayaan. Kota Jawa bukanlah sebuah gambaran fiktif tetapi sebuah “kondisi virtual” yang akan menjadi nyata kelak. Kita harus mengarahkan perubahan tersebut agar Kota Jawa yang adalah kota yang lestari. Memetakan Kota Jawa secara serius, penulis yakin, adalah satu-satunya cara. Dengan peta ini kita lantas mengetahui kondisi kita dan kemudian membuka jalan pada apa yang harus dilakukan.

No responses yet